Takalar – Radarnews.co.id | Kondisi rumah tidak layak huni di Lingkungan Limbungan, Kelurahan Pallantikan, Kecamatan Pattallassang, semakin menjadi sorotan publik setelah kasus keluarga Nappa dg Nai muncul ke permukaan. Pria yang tinggal bersama empat anaknya sangat berharap mendapatkan uluran tangan dari pemerintah untuk memperbaiki tempat tinggal yang sudah berada dalam kondisi kritis.
Rumah yang ditempati keluarga Nappa dg Nai memang sudah sangat tua dan kurang terawat, sehingga tidak lagi memenuhi syarat sebagai tempat tinggal yang layak. Lebih memprihatinkan lagi, salah satu anaknya yang berusia 12 tahun memiliki kebutuhan khusus, yang membuat kebutuhan akan tempat tinggal yang aman dan nyaman menjadi semakin mendesak. Anak tersebut membutuhkan ruang yang nyaman untuk perawatan dan perhatian tambahan yang tidak dapat dipenuhi oleh kondisi rumah saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Nappa dg Nai telah menjalani kehidupannya sendirian selama beberapa waktu setelah istrinya meninggal dunia. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anaknya, namun keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu memperbaiki rumah secara mandiri. “Pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian dan bantuan untuk memperbaiki rumah kami. Kami sangat membutuhkan uluran tangan untuk meningkatkan kualitas hidup kami,” ujarnya dengan nada penuh harapan.
Masyarakat sekitar juga menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi rumah keluarga tersebut. Mereka berharap pemerintah setempat segera menindaklanjuti kasus ini dan memberikan bantuan yang tepat sasaran, sehingga Nappa dg Nai dan anak-anaknya dapat hidup dengan lebih layak dan nyaman. Bantuan yang diharapkan tidak hanya berupa materi untuk perbaikan rumah, tetapi juga dukungan teknis dan pengawasan agar pekerjaan perbaikan berjalan lancar dan sesuai standar.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat dan daerah memang telah meluncurkan berbagai program bantuan perumahan untuk masyarakat kurang mampu, seperti Program Perumahan Sosial (PPS) dan Bantuan Rumah Sehat (BSH). Namun, fakta menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang belum terjangkau oleh program-program tersebut. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyaluran bantuan, mulai dari proses pendaftaran, verifikasi calon penerima, hingga pelaksanaan pekerjaan perumahan. Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan akurasi data penerima bantuan, mempermudah proses pendaftaran, dan meningkatkan transparansi dalam penyaluran bantuan agar tidak ada keluarga yang terlewatkan.
Dengan adanya perhatian dan bantuan yang tepat dari pemerintah, diharapkan keluarga Nappa dg Nai dapat merasakan manfaatnya secara langsung. Khususnya ketiga anaknya, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus, dapat merasakan kenyamanan dan keamanan dalam tempat tinggal sendiri, yang pada gilirannya akan mendukung perkembangan dan kesejahteraan mereka di masa depan. Semoga kasus ini menjadi titik awal bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan kebutuhan perumahan masyarakat kurang mampu dan membuat program bantuan semakin efektif serta tepat sasaran. (Tompo Darwis)






































