RADAR NEWS | Rakyat kembali dipaksa menelan ironi yang pahit. Di saat masyarakat diminta percaya pada perang melawan narkotika, justru oknum yang berdiri di barisan pemberantas malah diduga ikut tenggelam di dalam lumpur yang sama. Yohanes Bonar Adiguna Hutapea, seorang Kasat Resnarkoba yang seharusnya memburu pelaku narkotika, kini malah duduk di balik jeruji tahanan Polda Kaltim. Sebuah tamparan keras yang bukan hanya mencoreng institusi, tetapi juga melukai rasa percaya masyarakat yang selama ini diminta tunduk pada slogan “perang terhadap narkoba”.
Pengakuan bahwa barang haram itu hanya untuk dipakai sendiri terdengar seperti kalimat lama yang terlalu sering diputar ketika seorang aparat tersandung kasus. Publik tentu berhak bertanya, apakah mungkin seorang pejabat di satuan narkoba hanya sekadar “pemakai biasa” tanpa mengetahui lebih jauh jaringan yang selama ini ia hadapi setiap hari?
Jika benar aparat penegak hukum saja bisa terseret, lalu kepada siapa lagi rakyat harus menggantungkan harapan? Jangan salahkan masyarakat bila mulai muncul anggapan bahwa perang narkoba selama ini hanya keras di spanduk, tajam ke rakyat kecil, namun sering melempem ketika bau busuk mulai keluar dari dalam institusi sendiri. Publik tidak butuh sekadar konferensi pers dan narasi penenang. Yang ditunggu masyarakat adalah keberanian membersihkan internal tanpa sandiwara, tanpa perlindungan, tanpa “main mata” sesama aparat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebab rakyat sudah terlalu sering melihat kasus besar berubah kecil ketika pelakunya memakai seragam dan pangkat. Jangan sampai hukum kembali terlihat galak kepada masyarakat biasa, tetapi mendadak rabun saat berhadapan dengan oknum di lingkaran sendiri.
Jika institusi ingin kembali dipercaya, maka bersihkan sampai ke akar. Karena narkoba bukan hanya menghancurkan generasi muda, tetapi juga bisa menghancurkan wibawa hukum ketika penjaganya sendiri diduga ikut bermain di dalam gelap.
LAPORAN TIM RADARNEWS.
FERNANDO. H






































