Di tanah Gayo Lues yang dilingkupi sunyi, air bah turun bersama langit yang letih, membawa rumah, membawa harap, menyisakan tangis di tepi-tepi sungai yang berubah wajah.
Puluh ribuan jiwa menggigil dalam tenda darurat, anak-anak memeluk malam yang panjang, ibu-ibu menatap piring kosong, sementara bapak-bapak menimbang langkah pada jalan yang hilang ditelan longsor.
Dari sebelas kecamatan, hanya satu yang tetap berdiri tegap, yang lain tersungkur dalam pelukan tanah yang retak. Gayo Lues terkurung akses putus, jembatan runtuh, lorong-lorong negeri seperti ditelan sunyi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemimpin berdiri di depan rakyatnya, menatap helikopter yang tak kunjung datang, menunggu logistik dan nyala harapan, sementara perut masyarakat mulai bernyanyi pilu.
Pining kelaparan, Putri Betung merintih, Tripe Jaya menunggu langkah yang tak sampai. Alat berat bergerak perlahan, seperti harapan yang diseret lumpur menuju jalan yang tertutup oleh derita.
Di posko pengungsian, doa-doa bergema: “Ya Tuhan, bukalah jalan yang tertutup ini, gerakkan tangan-tangan yang jauh agar kami tak mati kelaparan di tanah sendiri.”
Kini hujan berhenti, tapi perjalanan menuju harapan masih tertahan. Jika logistik dipikul, butuh hari-hari menyayat kaki dan napas.
Gayo Lues terdiam dalam malam panjang, listrik padam, internet hilang, tapi semangat warganya tetap menyala meski hanya seterang lilin yang hampir padam.
Di antara bumi yang retak dan sungai yang mengamuk, mereka tetap percaya: bahwa bantuan akan tiba, bahwa negeri tak akan membiarkan mereka sendiri.
Dan di balik kabut ketakutan itu, suara-suara kecil berbisik lirih bukan sekadar meminta pertolongan, melainkan memohon agar mereka tetap hidup di tanah yang mereka cintai.






































