BLANGKEJEREN — Kepala SD Negeri 1 Blangkejeren, Hasan Basri, S.Pd., mengajak seluruh siswa untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Ikrar Pelajar Indonesia. Pesan tersebut menjadi pokok amanat pembina upacara yang disampaikan pada Senin, 20 Juli 2026, di halaman SD Negeri 1 Blangkejeren.

Upacara bendera yang diikuti oleh para siswa, guru, dan tenaga kependidikan itu menjadi bagian dari upaya sekolah menanamkan kedisiplinan, semangat kebangsaan, tanggung jawab, serta karakter positif kepada peserta didik. Dalam amanatnya, Hasan Basri menegaskan bahwa ikrar bukan sekadar rangkaian kalimat yang dibaca atau diucapkan dalam kegiatan resmi, melainkan janji moral yang harus dibuktikan melalui perilaku sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Hasan, Ikrar Pelajar Indonesia mengandung komitmen penting bagi generasi muda untuk menjadi pelajar yang beriman, berakhlak mulia, rajin belajar, disiplin, bertanggung jawab, serta mencintai bangsa dan negara. Nilai-nilai tersebut perlu mulai diterapkan sejak siswa berada di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kedisiplinan, menurut dia, merupakan kebiasaan yang harus dilatih secara konsisten. Siswa yang terbiasa disiplin sejak sekolah dasar akan lebih mampu mengatur waktu, menyelesaikan tanggung jawab, dan menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang. Karena itu, kebiasaan sederhana seperti bangun tepat waktu, menyiapkan perlengkapan sekolah, mengenakan seragam dengan rapi, dan mengikuti upacara dengan tertib memiliki arti penting dalam pembentukan karakter.
Hasan juga mengingatkan bahwa tujuan utama seorang pelajar adalah belajar. Namun, belajar tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca buku atau memperoleh nilai tinggi. Belajar juga berarti berusaha memahami hal-hal baru, berani bertanya, memperbaiki kesalahan, serta mengembangkan sikap yang baik.
Hasan mengajak seluruh siswa menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Hal tersebut dapat dimulai dengan membiasakan diri berbicara sopan, saling menyapa, membantu teman yang mengalami kesulitan, serta menyelesaikan perselisihan dengan cara yang baik.
Ia secara khusus mengingatkan para siswa agar tidak melakukan perundungan dalam bentuk apa pun, baik melalui perkataan, tindakan fisik, pengucilan, maupun penggunaan teknologi digital. Menurut dia, candaan yang merendahkan atau menyakiti orang lain tidak dapat dianggap sebagai hal biasa.
Apabila melihat tindakan perundungan, siswa diminta tidak ikut menertawakan atau membiarkannya. Mereka dianjurkan melaporkan kejadian tersebut kepada wali kelas, guru, atau pihak sekolah agar dapat segera ditangani. Keberanian melindungi teman yang menjadi korban merupakan bagian dari sikap peduli dan bertanggung jawab.
Hasan juga menyampaikan bahwa penghormatan kepada guru dan orang tua menjadi bagian penting dari karakter pelajar Indonesia. Orang tua telah berusaha memenuhi kebutuhan dan mendampingi pendidikan anak, sedangkan guru bertugas membimbing siswa agar berkembang dalam pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian.
Rasa hormat tersebut dapat diwujudkan dengan mendengarkan nasihat, berbicara secara santun, mengucapkan salam, meminta izin, serta melaksanakan tugas yang diberikan. Namun, siswa juga didorong untuk menyampaikan pendapat atau kesulitan secara terbuka dan sopan agar orang dewasa dapat memberikan bantuan yang tepat.
Dalam amanatnya, Hasan turut mengaitkan Ikrar Pelajar Indonesia dengan kecintaan terhadap Tanah Air. Ia menuturkan bahwa mencintai Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui penghormatan terhadap bendera Merah Putih atau menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Menjaga fasilitas sekolah, tidak membuang sampah sembarangan, merawat tanaman, menggunakan air dan listrik secara hemat, serta menjaga nama baik sekolah merupakan beberapa contoh perilaku cinta Tanah Air yang dapat dilakukan siswa. Tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama diyakini dapat memberikan pengaruh besar bagi lingkungan.
“Para pelajar adalah calon pemimpin bangsa. Masa depan Indonesia bergantung pada bagaimana anak-anak belajar, bersikap, dan membentuk kebiasaan mulai hari ini,” katanya.
Perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam amanat tersebut. Hasan meminta siswa menggunakan telepon seluler dan internet secara bijaksana, terutama ketika berada di rumah. Teknologi dapat membantu proses belajar apabila digunakan untuk mencari informasi yang bermanfaat, membaca bahan pelajaran, dan mengembangkan keterampilan.
Sebaliknya, penggunaan teknologi tanpa pengawasan dan batas waktu dapat mengganggu kegiatan belajar, waktu istirahat, serta interaksi dengan keluarga. Siswa diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya dan tidak menyebarkan foto, video, atau pesan yang dapat merugikan orang lain.
Ia menekankan bahwa sopan santun tetap harus dijaga meskipun komunikasi dilakukan melalui ruang digital. Para siswa tidak boleh menulis komentar kasar, menghina teman, atau membuka informasi pribadi kepada orang yang tidak dikenal. Apabila menemukan konten yang tidak pantas atau mengalami gangguan di internet, siswa dianjurkan segera memberi tahu orang tua atau guru.
Lebih lanjut, Hasan meminta seluruh warga sekolah memperkuat budaya gotong royong. Keberhasilan pendidikan, menurut dia, tidak hanya bergantung pada kepala sekolah atau guru, tetapi membutuhkan kerja sama siswa, orang tua, tenaga kependidikan, dan masyarakat.
Hasan juga meminta para guru terus memberikan keteladanan karena anak-anak lebih mudah memahami nilai karakter melalui contoh nyata. Sikap disiplin, adil, sabar, terbuka, dan bertanggung jawab dari para pendidik dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan siswa.
Kepada para siswa, ia berpesan agar menetapkan tujuan belajar dan berusaha mencapainya secara bertahap. Prestasi tidak harus selalu berupa kemenangan dalam perlombaan. Perubahan kecil, seperti lebih rajin membaca, lebih berani bertanya, mampu menjaga kebersihan, atau tidak lagi terlambat datang ke sekolah, juga merupakan bentuk kemajuan yang patut dihargai.
Amanat tersebut ditutup dengan ajakan kepada seluruh siswa untuk menjadikan momentum upacara sebagai awal memperbarui semangat belajar. Para siswa diharapkan mampu menjaga kekompakan, meningkatkan kedisiplinan, menghormati guru dan orang tua, serta menjadi teladan dalam perilaku sehari-hari.
Melalui penghayatan terhadap Ikrar Pelajar Indonesia, SD Negeri 1 Blangkejeren berharap dapat membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, mandiri, peduli, dan memiliki rasa cinta terhadap bangsa. Nilai-nilai itu diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang menyertai para siswa dalam perjalanan pendidikan mereka hingga dewasa.






































