Pertamax Naik, Pertalite Bertahan: Benarkah Masyarakat Sedang Digiring Kehilangan Pilihan?

RADAR NEWS

- Redaksi

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:42 WIB

50261 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADARNEWS – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax kembali memantik gelombang kritik dari masyarakat. Di balik kebijakan yang disebut sebagai penyesuaian harga mengikuti pasar dunia, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di tengah masyarakat: apakah rakyat secara perlahan sedang digiring untuk meninggalkan Pertalite?

Banyak warga menilai persoalan ini bukan sekadar soal naik atau tidaknya harga Pertamax. Yang menjadi kekhawatiran adalah semakin seringnya masyarakat mendengar kabar keterbatasan stok Pertalite di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa masyarakat perlahan dipaksa menerima kenyataan baru: ketika Pertalite sulit diperoleh, maka Pertamax menjadi satu-satunya pilihan.

“Memang Pertalite tidak naik. Tapi apa gunanya kalau nanti yang tersedia hanya Pertamax? Pada akhirnya masyarakat tetap harus membeli BBM yang lebih mahal,” keluh seorang pengendara yang ditemui tim RADARNEWS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di mata sebagian masyarakat, pola yang terjadi dianggap sederhana namun efektif. Pertama, harga Pertamax dinaikkan. Kedua, ketersediaan Pertalite dikhawatirkan semakin terbatas. Ketiga, masyarakat yang awalnya bertahan menggunakan Pertalite akhirnya terpaksa beralih ke Pertamax karena tidak memiliki alternatif lain.

Kritik ini semakin tajam karena menyentuh persoalan keadilan sosial. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, biaya pendidikan yang semakin mahal, serta pendapatan masyarakat yang tidak mengalami peningkatan signifikan, tambahan beban pengeluaran untuk BBM dinilai menjadi pukulan tersendiri bagi rakyat kecil.

Masyarakat mempertanyakan, apakah negara masih benar-benar hadir melindungi daya beli rakyat, atau justru membiarkan mereka menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat?

Sejumlah warga bahkan memprediksi bahwa jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin suatu saat papan informasi di SPBU akan lebih sering menampilkan tulisan “PERTALITE KOSONG”, sementara masyarakat yang hendak mengisi bahan bakar tidak memiliki pilihan selain membeli Pertamax dengan harga yang lebih tinggi.

Yang menjadi sorotan adalah bahwa ketika pilihan rakyat semakin sempit, maka istilah “sukarela beralih” kehilangan maknanya. Sebab perpindahan dari Pertalite ke Pertamax bukan lagi karena kesadaran atau kemampuan ekonomi yang meningkat, melainkan karena tidak adanya pilihan lain.

Di sisi lain, masyarakat menuntut transparansi penuh dari pemerintah dan Pertamina terkait ketersediaan stok Pertalite. Jika memang tidak ada rencana pengurangan distribusi maupun penghapusan Pertalite, maka publik berhak mendapatkan kepastian dan jaminan yang jelas.

Bagi rakyat kecil, persoalan BBM bukan sekadar angka di papan harga SPBU. Setiap kenaikan biaya bahan bakar akan berdampak langsung pada ongkos transportasi, harga barang kebutuhan sehari-hari, hingga biaya operasional usaha kecil yang menjadi tumpuan hidup jutaan keluarga Indonesia.

Pertanyaan yang kini bergema di tengah masyarakat adalah sederhana namun tajam: Apakah Pertalite benar-benar tetap dipertahankan untuk rakyat, atau masyarakat sedang dipersiapkan secara perlahan untuk menerima kenyataan bahwa suatu hari nanti mereka harus beralih sepenuhnya ke Pertamax?

 

Catatan Redaksi  ;

Tulisan ini memuat kritik, pandangan, dan kekhawatiran yang berkembang di tengah masyarakat. Dugaan mengenai pengurangan atau penghapusan Pertalite perlu didukung data dan klarifikasi resmi dari pemerintah serta pihak terkait agar informasi tetap berimbang dan akurat.

LAPORAN TIM RADARNEWS.

FERNANDO. HUTAURUK

Berita Terkait

Satpam Diduga , Mengancam Keluarga Pasien yang Cemas, Pihak Puskesmas Belum Dapat Dikonfirmasi
Dari Jakarta untuk Indonesia, SWI Resmikan Kepengurusan Baru dan Gaungkan Gerakan Sampah Jadi Cuan
Setelah Menuai Kritik, Hotman Paris Sampaikan Permintaan Maaf kepada PWI dan Seluruh Insan Pers
Publik Minta Usut Tuntas Dugaan Fasilitasi Konferensi Pers Hotman di Kejagung, Jangan Ada Perlakuan Istimewa
Hotman Paris Gagal Paham, Penetapan Tersangka Bukan Harus Izin Presiden
Persiapan Mubes Pemilihan Anggota MPD Gayo Lues Dimatangkan, Digelar 21–22 Juli 2026
Hadiri Rakernas GP Alwashliyah 2026, Menko Pangan Zulkifli Hasan Beri Pembekalan
Audiensi DPP SWI dan Dewan Pers, Komitmen Wujudkan Organisasi Wartawan yang Kredibel

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 07:42 WIB

Pekarangan Produktif Didorong Jadi Penopang Ketahanan Pangan, AIPDA Awanadi Edukasi Warga Kelurahan Sei Sedapat

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:51 WIB

Kodim 0113/Gayo Lues Resmi Tutup Karya Bhakti TNI 2026, Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Daerah

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:16 WIB

Babinsa selalu hadir pada pembuatan pondasi jembatan gantung di desa Binaan

Kamis, 30 Juli 2026 - 10:36 WIB

Ahli Dr. Eva Syahfitri Nasution,SH,MH Berpendapat Kasus Terjadinya Kematian di THM Bravo Bukan Kasus Pembunuhan Berencana

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:56 WIB

Babinsa Koramil 05/Pining Tinjau Lahan Pertanian Sawah di Desa Lesten

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:13 WIB

Babinsa Koramil 06/Tripe Jaya Bersama Warga Gotong Royong Percepat Pembangunan Jembatan Gantung

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:52 WIB

Babinsa Koramil 08/Blangpegayon Bersama Personil Yon TP 855 Cor Pondasi Percepat Pembangunan Jembatan Gantung

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:31 WIB

Ringankan Beban Warga Binaan Babinsa Bantu Bangun Rumah

Berita Terbaru