Pertamax Naik, Pertalite Bertahan: Benarkah Masyarakat Sedang Digiring Kehilangan Pilihan?

RADAR NEWS

- Redaksi

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:42 WIB

50290 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADARNEWS – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax kembali memantik gelombang kritik dari masyarakat. Di balik kebijakan yang disebut sebagai penyesuaian harga mengikuti pasar dunia, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di tengah masyarakat: apakah rakyat secara perlahan sedang digiring untuk meninggalkan Pertalite?

Banyak warga menilai persoalan ini bukan sekadar soal naik atau tidaknya harga Pertamax. Yang menjadi kekhawatiran adalah semakin seringnya masyarakat mendengar kabar keterbatasan stok Pertalite di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa masyarakat perlahan dipaksa menerima kenyataan baru: ketika Pertalite sulit diperoleh, maka Pertamax menjadi satu-satunya pilihan.

“Memang Pertalite tidak naik. Tapi apa gunanya kalau nanti yang tersedia hanya Pertamax? Pada akhirnya masyarakat tetap harus membeli BBM yang lebih mahal,” keluh seorang pengendara yang ditemui tim RADARNEWS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di mata sebagian masyarakat, pola yang terjadi dianggap sederhana namun efektif. Pertama, harga Pertamax dinaikkan. Kedua, ketersediaan Pertalite dikhawatirkan semakin terbatas. Ketiga, masyarakat yang awalnya bertahan menggunakan Pertalite akhirnya terpaksa beralih ke Pertamax karena tidak memiliki alternatif lain.

Kritik ini semakin tajam karena menyentuh persoalan keadilan sosial. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, biaya pendidikan yang semakin mahal, serta pendapatan masyarakat yang tidak mengalami peningkatan signifikan, tambahan beban pengeluaran untuk BBM dinilai menjadi pukulan tersendiri bagi rakyat kecil.

Masyarakat mempertanyakan, apakah negara masih benar-benar hadir melindungi daya beli rakyat, atau justru membiarkan mereka menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat?

Sejumlah warga bahkan memprediksi bahwa jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin suatu saat papan informasi di SPBU akan lebih sering menampilkan tulisan “PERTALITE KOSONG”, sementara masyarakat yang hendak mengisi bahan bakar tidak memiliki pilihan selain membeli Pertamax dengan harga yang lebih tinggi.

Yang menjadi sorotan adalah bahwa ketika pilihan rakyat semakin sempit, maka istilah “sukarela beralih” kehilangan maknanya. Sebab perpindahan dari Pertalite ke Pertamax bukan lagi karena kesadaran atau kemampuan ekonomi yang meningkat, melainkan karena tidak adanya pilihan lain.

Di sisi lain, masyarakat menuntut transparansi penuh dari pemerintah dan Pertamina terkait ketersediaan stok Pertalite. Jika memang tidak ada rencana pengurangan distribusi maupun penghapusan Pertalite, maka publik berhak mendapatkan kepastian dan jaminan yang jelas.

Bagi rakyat kecil, persoalan BBM bukan sekadar angka di papan harga SPBU. Setiap kenaikan biaya bahan bakar akan berdampak langsung pada ongkos transportasi, harga barang kebutuhan sehari-hari, hingga biaya operasional usaha kecil yang menjadi tumpuan hidup jutaan keluarga Indonesia.

Pertanyaan yang kini bergema di tengah masyarakat adalah sederhana namun tajam: Apakah Pertalite benar-benar tetap dipertahankan untuk rakyat, atau masyarakat sedang dipersiapkan secara perlahan untuk menerima kenyataan bahwa suatu hari nanti mereka harus beralih sepenuhnya ke Pertamax?

 

Catatan Redaksi  ;

Tulisan ini memuat kritik, pandangan, dan kekhawatiran yang berkembang di tengah masyarakat. Dugaan mengenai pengurangan atau penghapusan Pertalite perlu didukung data dan klarifikasi resmi dari pemerintah serta pihak terkait agar informasi tetap berimbang dan akurat.

LAPORAN TIM RADARNEWS.

FERNANDO. HUTAURUK

Berita Terkait

Tindak Tegas Oknum yang Bermain-Main Dengan Laporan Masyarakat
Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa
TEBANG PILIH HUKUM DI BALIK JERUJI BESI!  Skandal 10 Klaster Mewah Ilegal di Lapas Cibinong Akhirnya Hancur Diratakan Ekskavator
Jerry Massie Kritik Keras Jokowi, Sebut Pemerintahannya Kental dengan Kontroversi Pernyataan dan Janji yang Tak Kunjung Terbukti
DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH
Kejutan Pendatang Baru, SDN 3 Blangkejeren Cetak Sejarah di Kejuaraan Pencak Silat Piala PDM 2026
SDA Aceh dan Geopolitik: Antara Kekayaan Alam dan Kepentingan Nasional
DPP LPPI: Ombudsman Tendensius, Bangunan di Area SAE Lapas Cibinong Dijelaskan sebagai Rumah Dinas Jabatan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa

Rabu, 30 September 2026 - 20:24 WIB

TEBANG PILIH HUKUM DI BALIK JERUJI BESI!  Skandal 10 Klaster Mewah Ilegal di Lapas Cibinong Akhirnya Hancur Diratakan Ekskavator

Rabu, 30 September 2026 - 01:00 WIB

Jerry Massie Kritik Keras Jokowi, Sebut Pemerintahannya Kental dengan Kontroversi Pernyataan dan Janji yang Tak Kunjung Terbukti

Selasa, 29 September 2026 - 16:56 WIB

DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH

Senin, 28 September 2026 - 10:58 WIB

Kejutan Pendatang Baru, SDN 3 Blangkejeren Cetak Sejarah di Kejuaraan Pencak Silat Piala PDM 2026

Kamis, 24 September 2026 - 21:42 WIB

SDA Aceh dan Geopolitik: Antara Kekayaan Alam dan Kepentingan Nasional

Kamis, 24 September 2026 - 21:27 WIB

DPP LPPI: Ombudsman Tendensius, Bangunan di Area SAE Lapas Cibinong Dijelaskan sebagai Rumah Dinas Jabatan

Sabtu, 5 September 2026 - 03:12 WIB

Kejagung Sita Aset Rp8,4 Miliar Milik Eks Kepala BGN Dadan Hindayana dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG

Berita Terbaru

REGIONAL

Babinsa dampingi petani cek pertumbuhan tanaman bawang

Jumat, 2 Okt 2026 - 10:01 WIB