Skandal Perubahan Identitas di Aceh Tenggara Ungkap Bobroknya Sistem Kependudukan dan Lemahnya Pengawasan Negara

RADAR NEWS

- Redaksi

Kamis, 9 April 2026 - 21:31 WIB

50237 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RELEASE INVESTIGASI – RADARNEWS

Aceh Tenggara |  Skandal perubahan identitas yang terbongkar melalui putusan Pengadilan Negeri Kutacane kini tak lagi bisa ditutup sebagai sekadar “kesalahan administratif”. Fakta-fakta yang terkuak justru mengarah pada dugaan bobroknya dan banyaknya kelalaian dalam sistem pengelolaan data kependudukan yang berpotensi sistemik dan tidak terstruktur dengan baik.

Kasus ini membuka satu pertanyaan besar: bagaimana mungkin identitas seseorang bisa berubah dan lolos hingga ke dokumen resmi negara tanpa terdeteksi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengamat hukum administrasi negara, Dr. Andika Prasetyo, menilai apa yang terjadi bukan lagi kelalaian biasa, melainkan kegagalan fatal yang mencerminkan rapuhnya fondasi verifikasi data di tingkat institusi. “Kalau identitas bisa ‘berubah’ dan masuk ke akta resmi, itu bukan human error, itu alarm keras bahwa sistemnya sudah jebol. Ini bukan sekadar kelalaian, ini kegagalan negara menjaga validitas data warga,” tegasnya.

Nada keras juga datang dari aktivis antikorupsi, Rina Siregar, yang melihat celah ini sebagai pintu masuk bagi potensi kesalahan ke arah yang lebih besar. “Data kependudukan adalah jantung administrasi negara. Ketika sistem itu tidak berjalan dengan baik atau dimanipulasi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu identitas, tapi keamanan sistem secara keseluruhan,” ungkapnya.

Sorotan tajam mengarah ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang dinilai gagal total menjalankan fungsi kontrol. Investigasi dari Tim RADARNEWS menemukan indikasi lemahnya mekanisme validasi di lapangan, bahkan cenderung longgar dan rentan disusupi kesalahan sejak tahap awal.

Seorang sumber internal yang namanya enggan disebutkan membongkar fakta yang sangat mencengangkan: “Proses validasi masih banyak yang manual, minim verifikasi berlapis. Kalau ada data salah di awal, itu bisa ‘hidup’ terus dan dianggap benar di dokumen berikutnya. Sistem sepertinya tidak memutus rantai kesalahan.”

Lebih ironis lagi, beban koreksi justru dilempar ke masyarakat. Warga yang menjadi korban kesalahan sistem dipaksa menanggung biaya untuk memperbaiki kekeliruan yang bukan mereka buat.

Pengamat kebijakan publik, Freddy S., menyebut kondisi ini sebagai bentuk kegagalan yang nyata. “Ini absurd. Negara salah, rakyat yang disuruh membayar. Ini bukan pelayanan publik, ini pembiaran yang dilegalkan. Negara seharusnya bertanggung jawab, bukan cuci tangan,” kritiknya dengan tajam.

RADARNEWS menilai, kasus ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan gejala dari penyakit kronis dalam tata kelola administrasi negara. Ketika sistem longgar, pengawasan lemah, dan tanggung jawab kabur, maka yang lahir adalah lingkaran ruang gelap tempat masalah tumbuh tanpa kontrol.

Jika tidak ada audit menyeluruh, pembenahan struktural, dan pertanggungjawaban yang jelas, maka kasus serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk diam-diam merusak dan kemudian meledak sebagai bom waktu di meja hijau pengadilan.

Pertanyaan yang muncul kini bukan lagi “bagaimana ini bisa terjadi”, tetapi “siapa yang harus bertanggung jawab dan diadili?”

LAPORAN TIM RADARNEWS
FERNANDO H.

Berita Terkait

Sugito Siagian Usung Visi Desa Maju dan Berkeadilan, Prioritaskan Pendidikan, Kesejahteraan Lansia, serta Transparansi Pemerintahan Desa
Persoalan Uang Wakaf dan Infak Masjid Al-Falah Aceh Tenggara Diinformasikan Selesai, Keluarga Rencanakan Pemeriksaan Kesehatan
Musda X Golkar Aceh Tenggara: Denny Febrian Roza Ambil Kendali, Arah Baru Partai Mulai Dipertanyakan
MUSDA X Golkar Aceh Tenggara: Konsolidasi atau Pertarungan Kursi Ketua?
Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa
Yahdi Hasan Ramud : Meniti Jalan Panjang Dari Bumi Sepakat Segenep, Hingga Panggung DPRA
DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH
Kejutan Pendatang Baru, SDN 3 Blangkejeren Cetak Sejarah di Kejuaraan Pencak Silat Piala PDM 2026

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Jalin Komunikasi dengan Kepala Sekolah dan Guru, Babinsa Koramil 04/Kuta Panjang Berkunjung Ke SDN Di Wilayah Binaan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Jalin Komunikasi dengan Kepala Sekolah dan Guru, Babinsa Koramil 04/Kuta Panjang Berkunjung Ke SDN Di Wilayah Binaan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:06 WIB

Babinsa Dampingi Warga Daftar Bantuan Lewat Aplikasi Perlinsos

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:39 WIB

Menciptakan Hubungan Baik Dengan Warga didesa binaan Babinsa Komsos dengan Tokoh Pemuda

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Wujud Kemanunggalan TNI-Rakyat, Babinsa dan BKO Yon TP 855/Raksaka Dharma Bangun Jembatan Perintis Garuda di Desa Mangang

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Anjangsana pererat tali silaturahmi Babinsa komsos dengan perangkat desa

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:10 WIB

​Wujud Kemanunggalan TNI dan Rakyat: Gotong Royong Pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Gayo Lues Capai 36 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:04 WIB

Semangat Gotong-royong TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues

Berita Terbaru