Ketika Uang Mengatur Keadilan

RADAR NEWS

- Redaksi

Minggu, 9 November 2025 - 00:34 WIB

50741 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADAR NEWS | Fenomena ketimpangan penegakan hukum yang kian mencolok kembali menjadi sorotan tajam publik. Masyarakat mulai mempertanyakan arah dan integritas sistem hukum di Indonesia yang, dalam banyak kasus, tampak berjalan tak seimbang. Proses hukum yang semestinya menjadi pilar keadilan, perlahan berubah menjadi ruang transaksional yang dikendalikan oleh uang dan kekuasaan. Terlalu sering publik disuguhi kenyataan pahit: ketika seorang berpangkat atau berkantong tebal melapor, hukum seketika bergerak cepat, seolah tanpa hambatan. Namun, ketika rakyat kecil mengetuk pintu keadilan, jawaban yang datang justru berupa sunyi, tangguhan tak berujung, bahkan keputusasaan.

Contoh demi contoh menumpuk, menghadirkan ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, kita melihat aparat penegak hukum bertindak gesit menanggapi laporan dari kalangan elit. Tak perlu menunggu lama, prosedur hukum segera dijalankan, penyelidikan langsung dibuka, dan konferensi pers dilangsungkan menyebarkan narasi penegakan keadilan yang gagah. Tapi di sisi lain, ketika seorang petani kehilangan lahan karena ulah mafia tanah, atau buruh kecil ditipu upahnya oleh perusahaan nakal, proses hukum mendadak lambat. Laporan yang dilayangkan tak kunjung diproses. Bukti yang sudah dikumpulkan tidak cukup menarik perhatian. Dan waktu pun bergulir tanpa kepastian sampai akhirnya masyarakat lupa, atau kehilangan semangat untuk memperjuangkan perkara yang sedari awal memperjuangkan hak.

Hukum, yang seharusnya menjadi alat untuk memastikan perlakuan setara bagi setiap warga negara, perlahan menjelma menjadi medan permainan elit kuasa. Publik pun bertanya, ke mana arah hukum di negeri ini? Mengapa hukum seakan hanya berpihak bila didorong oleh sumber daya? Mengapa aparat penegak hukum cenderung lebih tanggap kepada pengaduan yang datang dari balik meja kaca ruang ber-AC, ketimbang rakyat yang datang dengan berkas di tangan dan harapan di hati? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tak kunjung jelas. Yang terasa hanya tifanya ketegasan, absennya kesetaraan, dan menguatnya kesan bahwa keadilan dapat dipaket sesuai kemampuan finansial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesadaran masyarakat akan ketimpangan ini bukan baru tumbuh kemarin sore. Dalam diskursus sosial, khususnya di media sosial dan ruang publik, keresahan semacam ini telah menjadi topik yang berulang. Frasa “jalan hukum orang miskin adalah kesabaran” kian relevan diucapkan. Banyak pula yang memilih tak lagi mempercayai sistem formal dan menggantungkan diri pada mediasi non-formal atau bahkan menyerah. Padahal, ini adalah gejala yang sangat serius. Ketika masyarakat tak lagi percaya pada proses hukum, maka yang runtuh tak hanya institusi hukum itu sendiri, tapi juga sendi kepercayaan publik kepada negara. Tak ubahnya fondasi rumah yang keropos, negara pun tak lagi kokoh bila hukum bisa dibeli atau diarahkan dengan kekuasaan.

Ironi hukum sebagai panglima keadilan kini berada di persimpangan. Publik kian terdidik dan tak bisa dibohongi dengan janji-janji normatif yang berputar-putar di balik meja kekuasaan. Masyarakat menunggu jawaban dalam bentuk nyata, bukan pidato atau konferensi pers yang hanya mengulangi jargon-jargon lama. Di tengah suara-suara kritis yang kini tumbuh dari berbagai kalangan, dari masyarakat adat hingga kaum intelektual muda, hanya satu harapan yang mereka gaungkan: kembalikan hukum pada tempatnya. Jadikan hukum alat untuk membela yang lemah, bukan tameng bagi yang kuat.

Negara tidak akan runtuh hanya karena kritik terhadap sistemnya. Ia akan runtuh bila menutup mata dari kenyataan pahit yang terus terjadi di tengah masyarakatnya. Dan kenyataan hari ini menunjukkan, ketimpangan dalam memperlakukan warga negara di hadapan hukum telah menjadi penyakit yang merusak akar keadilan itu sendiri. Tanpa keberanian untuk menindak kesewenang-wenangan, dan tanpa ketegasan dalam menempatkan hukum sebagai pelindung semua, cita-cita negara hukum hanya akan tinggal dalam teks pembukaan konstitusi.

Di tengah rasa lelah yang melanda rakyat kecil dalam mengejar proses hukum yang rumit dan berat sebelah, tersisa satu pertanyaan yang mencuat dari lubuk hati terdalam: apakah keadilan masih mungkin diperoleh, jika yang mengatur hukum adalah uang? Dalam keheningan yang menyakitkan, pertanyaan ini menggantung, menunggu dijawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata.

FERNANDO.H

Berita Terkait

Kampung Kota Rikit Gaib di Bawah Kepemimpinan Taher Raih Skor 90,5, Pemkab Gayo Lues Terima Penghargaan KPK
Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa
DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH
Kejutan Pendatang Baru, SDN 3 Blangkejeren Cetak Sejarah di Kejuaraan Pencak Silat Piala PDM 2026
SDA Aceh dan Geopolitik: Antara Kekayaan Alam dan Kepentingan Nasional
Cegah kasus korupsi, HOTMA dukung Mantan Jampidsus Kebanggaan Presiden
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP
Demo Jilit II Peserta Aksi Bawa BH, Kapolrestabes Medan Diminta Tepati Janji dan Tangkap Mamak Maling

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:36 WIB

Antisipasi Lonjakan Harga, Babinsa Koramil 04/Kuta Panjang Pantau Harga Ikan Di Pasar Tradisional Wilayah Binaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Babinsa Komsos Dengan Tokoh Masyarakat Di Wilayah Desa Binaan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Tim Wasev Kunjungi Lokasi TMMD ke-130 TA 2026 Kodim 0113/Gayo Lues

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:33 WIB

Babinsa Pos Ramil Dabun Gelang dampingi Penyaluran Makan Bergisi Gratis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Musim Hujan, Babinsa Ingatkan Warga Waspada Bencana Alam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:56 WIB

Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah Gayo Lues – Pengerjaan sumur bor pada Sasaran Program Unggulan TNI AD dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-130 Tahun 2026 Kodim 0113/Gayo Lues mulai dilaksanakan. Sebanyak dua titik sumur bor akan dibangun di dua Desa, yaitu Kampung Pepelah dan satu lagi di kampung Gajah Kecamatan Pining. Tentunya diharapkan bantuan ini dapat membantu mengurangi krisis air yang selama ini dialami warga, sehingga masyarakat dapat lebih mudah memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Anggota Satgas bersama warga bahu membahu membuat sumur bor demi terciptanya air bersih yang layak pakai. Kehadiran Satgas TMMD ke-130 Kodim Gayo Lues di tengah masyarakat tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat melalui kerja nyata yang memberikan manfaat langsung bagi warga. Dansatgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Letkol Arm Frans Desiafan Eka Saputra, S.H melalui Wadansatgas Kapten Inf MHD Syafi’i Sirait mengatakan, bahwa program penyediaan air bersih ini juga menjadi bagian dari komitmen TNI melalui TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues untuk membantu percepatan pembangunan di wilayah pedesaan, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan akan air bersih selama musim kemarau. Melalui pembangunan fasilitas air bersih tersebut, diharapkan masyarakat di sekitar dua kampung tersebut dapat memperoleh akses air yang lebih mudah dan memadai untuk menunjang aktivitas rumah tangga, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kualitas kesehatan warga. Kita berharap bahwa dengan pembuatan sumur bor ini, warga Kampung Pepelah dan Kampung Gajah dapat memiliki akses ke air bersih yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” kata Wadansatgas.

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Babinsa Koramil 01/Terangun Pantau Pembangunan KDKMP Desa Rumpi, Progres Capai 80 Persen

Berita Terbaru

REGIONAL

Babinsa Komsos Dengan Tokoh Masyarakat Di Wilayah Desa Binaan

Sabtu, 31 Okt 2026 - 08:31 WIB