Ketika Uang Mengatur Keadilan

RADAR NEWS

- Redaksi

Minggu, 9 November 2025 - 00:34 WIB

50703 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RADAR NEWS | Fenomena ketimpangan penegakan hukum yang kian mencolok kembali menjadi sorotan tajam publik. Masyarakat mulai mempertanyakan arah dan integritas sistem hukum di Indonesia yang, dalam banyak kasus, tampak berjalan tak seimbang. Proses hukum yang semestinya menjadi pilar keadilan, perlahan berubah menjadi ruang transaksional yang dikendalikan oleh uang dan kekuasaan. Terlalu sering publik disuguhi kenyataan pahit: ketika seorang berpangkat atau berkantong tebal melapor, hukum seketika bergerak cepat, seolah tanpa hambatan. Namun, ketika rakyat kecil mengetuk pintu keadilan, jawaban yang datang justru berupa sunyi, tangguhan tak berujung, bahkan keputusasaan.

Contoh demi contoh menumpuk, menghadirkan ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, kita melihat aparat penegak hukum bertindak gesit menanggapi laporan dari kalangan elit. Tak perlu menunggu lama, prosedur hukum segera dijalankan, penyelidikan langsung dibuka, dan konferensi pers dilangsungkan menyebarkan narasi penegakan keadilan yang gagah. Tapi di sisi lain, ketika seorang petani kehilangan lahan karena ulah mafia tanah, atau buruh kecil ditipu upahnya oleh perusahaan nakal, proses hukum mendadak lambat. Laporan yang dilayangkan tak kunjung diproses. Bukti yang sudah dikumpulkan tidak cukup menarik perhatian. Dan waktu pun bergulir tanpa kepastian sampai akhirnya masyarakat lupa, atau kehilangan semangat untuk memperjuangkan perkara yang sedari awal memperjuangkan hak.

Hukum, yang seharusnya menjadi alat untuk memastikan perlakuan setara bagi setiap warga negara, perlahan menjelma menjadi medan permainan elit kuasa. Publik pun bertanya, ke mana arah hukum di negeri ini? Mengapa hukum seakan hanya berpihak bila didorong oleh sumber daya? Mengapa aparat penegak hukum cenderung lebih tanggap kepada pengaduan yang datang dari balik meja kaca ruang ber-AC, ketimbang rakyat yang datang dengan berkas di tangan dan harapan di hati? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tak kunjung jelas. Yang terasa hanya tifanya ketegasan, absennya kesetaraan, dan menguatnya kesan bahwa keadilan dapat dipaket sesuai kemampuan finansial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesadaran masyarakat akan ketimpangan ini bukan baru tumbuh kemarin sore. Dalam diskursus sosial, khususnya di media sosial dan ruang publik, keresahan semacam ini telah menjadi topik yang berulang. Frasa “jalan hukum orang miskin adalah kesabaran” kian relevan diucapkan. Banyak pula yang memilih tak lagi mempercayai sistem formal dan menggantungkan diri pada mediasi non-formal atau bahkan menyerah. Padahal, ini adalah gejala yang sangat serius. Ketika masyarakat tak lagi percaya pada proses hukum, maka yang runtuh tak hanya institusi hukum itu sendiri, tapi juga sendi kepercayaan publik kepada negara. Tak ubahnya fondasi rumah yang keropos, negara pun tak lagi kokoh bila hukum bisa dibeli atau diarahkan dengan kekuasaan.

Ironi hukum sebagai panglima keadilan kini berada di persimpangan. Publik kian terdidik dan tak bisa dibohongi dengan janji-janji normatif yang berputar-putar di balik meja kekuasaan. Masyarakat menunggu jawaban dalam bentuk nyata, bukan pidato atau konferensi pers yang hanya mengulangi jargon-jargon lama. Di tengah suara-suara kritis yang kini tumbuh dari berbagai kalangan, dari masyarakat adat hingga kaum intelektual muda, hanya satu harapan yang mereka gaungkan: kembalikan hukum pada tempatnya. Jadikan hukum alat untuk membela yang lemah, bukan tameng bagi yang kuat.

Negara tidak akan runtuh hanya karena kritik terhadap sistemnya. Ia akan runtuh bila menutup mata dari kenyataan pahit yang terus terjadi di tengah masyarakatnya. Dan kenyataan hari ini menunjukkan, ketimpangan dalam memperlakukan warga negara di hadapan hukum telah menjadi penyakit yang merusak akar keadilan itu sendiri. Tanpa keberanian untuk menindak kesewenang-wenangan, dan tanpa ketegasan dalam menempatkan hukum sebagai pelindung semua, cita-cita negara hukum hanya akan tinggal dalam teks pembukaan konstitusi.

Di tengah rasa lelah yang melanda rakyat kecil dalam mengejar proses hukum yang rumit dan berat sebelah, tersisa satu pertanyaan yang mencuat dari lubuk hati terdalam: apakah keadilan masih mungkin diperoleh, jika yang mengatur hukum adalah uang? Dalam keheningan yang menyakitkan, pertanyaan ini menggantung, menunggu dijawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata.

FERNANDO.H

Berita Terkait

Cegah kasus korupsi, HOTMA dukung Mantan Jampidsus Kebanggaan Presiden
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP
Demo Jilit II Peserta Aksi Bawa BH, Kapolrestabes Medan Diminta Tepati Janji dan Tangkap Mamak Maling
Lembaga MPSU Mengucapkan Selamat Atas Muktamar Ke -23 Alwasliyah
Kemegahan Masjid Agung Medan: Simbol Harmoni, Sejarah, dan Wajah Baru Wisata Religi Sumatera Utara
Pembina DPC GRIB Jaya Kota Medan Ferdy Sanjaya Sembiring Sembelih 21 Hewan Qurban Idul Adha 1447 H untuk Masyarakat
Ketua Umum MPSU Angkat Bicara Terkait Polemik SPPG Binjai 2 Kecamatan Medan Denai Kota Medan
Merasa Dizalimi, Keluarga Korban Pencurian Menangis dan Bentangkan Spanduk Presiden Prabowo Usai Sidang di Pengadilan Negeri Medan

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:59 WIB

Masuki Tahap Baru, Kodim Abdya Bangun Tower Air untuk Warga di Lima Desa

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:41 WIB

Jembatan Beton di Desa Cinta Makmur Disambut Antusias Warga, Petani: Terimakasih Kodim Abdya

Rabu, 22 Juli 2026 - 18:32 WIB

Program Manunggal Air Bersih Kodim Abdya Disambut Positif, Warga: Sangat Membantu Kebutuhan Air Bersih

Senin, 20 Juli 2026 - 17:52 WIB

Kodim 0110/Abdya Bangun Lima Sumur Bor, Program TNI AD Manunggal Air Mulai Bergulir

Senin, 6 Juli 2026 - 13:47 WIB

Grasstrack Kapolres Agara Sukses Digelar, Semangat Bhayangkara dan Prestasi Berpacu di Sirkuit IMI Aceh Tenggara

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:33 WIB

Membelah Bukit, TMMD Hadirkan ‘Merah Putih’ di Gunung Cut

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:07 WIB

Jam Komandan, Dandim Abdya Warning Keras Bahaya Narkoba

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:39 WIB

Kapok Sahli Pangdam IM Disambut Meriah Bentangan Bendera Merah Putih oleh Pelajar di Penutupan TMMD Abdya

Berita Terbaru