GAYO LUES – Pemerintah Kabupaten Gayo Lues melalui Dinas Pertanian terus mendorong peningkatan produksi kopi unggulan lokal dengan menggulirkan program peremajaan dan pengembangan varietas kopi Gayo 3. Langkah ini dilakukan guna memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendukung pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor perkebunan.
Kepala Dinas Pertanian Gayo Lues, Ir. Abdul Hakim, M.P, menjelaskan bahwa bibit kopi yang disalurkan dalam program ini bukanlah benih sembarangan, melainkan berasal dari varietas unggul yang telah melalui proses penelitian dan sertifikasi resmi. Hal ini disampaikannya pada saat kegiatan konsolidasi bersama stakeholder pertanian, Selasa, 04 November 2025.
“Bibit yang kami distribusikan telah melalui proses sertifikasi ketat dari UPTD Provinsi Aceh dan berasal dari Kebun Induk yang sudah ditetapkan dalam SK Menteri Pertanian, khusus varietas Gayo 3. Benih ini sah secara legal dan terbukti unggul secara kualitas,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada tahap awal tahun ini, sebanyak 100.000 bibit kopi akan disalurkan kepada empat kelompok tani di satu kecamatan sebagai bagian dari pengembangan lahan seluas 100 hektare. Program ini akan dilanjutkan di fase berikutnya dengan sasaran perluasan lahan mencapai 1.500 hektare hingga akhir tahun 2025, sebagai bagian dari target nasional yang dirancang sampai 5.000 hektare pada 2027.
“Untuk tahun anggaran 2025 ini, kami menargetkan perluasan lahan kopi hingga 1.500 hektare. Penanaman tahap awal dijadwalkan akan dimulai pada Desember 2025 dan dilanjutkan pada Maret–April 2026,” tutur Abdul Hakim.
Program ini difokuskan bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani, dengan luasan lahan minimal setengah hektare. Ia menegaskan bahwa verifikasi akan dilakukan melalui teknologi citra satelit untuk memastikan keakuratan lokasi, serta kesesuaian lahan, termasuk ketinggian wilayah di atas 800 meter dari permukaan laut.
Dijelaskan pula bahwa dari total luas wilayah Kabupaten Gayo Lues, hanya 30 persen yang dapat digarap untuk aktivitas pertanian, karena sisanya masuk kategori Taman Nasional Gunung Leuser dan kawasan hutan lindung. Karena itu, optimalisasi lahan pertanian menjadi sangat penting dan memerlukan pengelolaan cermat.
Di sisi lain, pemerintah daerah berkomitmen untuk tidak membebani petani dengan aturan pemasaran. Petani diberi keleluasaan menjual hasil panen ke pengepul, koperasi, atau pasar ekspor. Pemkab bersifat memfasilitasi dan mendorong petani agar mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.
“Terserah petani ingin menjual kemana. Yang penting produksi meningkat dan berdampak pada ekonomi masyarakat. Kami tidak intervensi pasar, tapi akan tetap memberi pendampingan teknis,” tegasnya.
Dalam jangka panjang, Pemkab Gayo Lues juga tengah mempersiapkan agenda hilirisasi kopi dan membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta. Salah satunya, menjajaki komunikasi dengan perusahaan pengolahan kopi seperti PT Ujang Jaya dan mitra ekspor seperti Starbucks di Medan.
“Pemkab mengarahkan, bukan mendominasi. Ini bagian dari upaya kami membangun pasar yang sehat dan kompetitif,” ungkap Abdul Hakim.
Program strategis ini pun mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pertanian. Berdasarkan hasil rapat koordinasi terakhir, Gayo Lues menjadi salah satu prioritas nasional untuk pengembangan kopi di wilayah dataran tinggi. Dalam dua tahun ke depan, 4.000 hektare lahan diharapkan sudah tertanami kopi varietas unggul, sebelum target penuh 5.000 hektare tercapai di tahun 2027.
Untuk mengikuti program ini, masyarakat harus mendaftar melalui kelompok tani resmi yang telah terdaftar dalam sistem Simluhtan (Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian). Sementara itu, bantuan Pemerintah Kabupaten saat ini meliputi pengadaan bibit dan subsidi biaya kerja pengolahan lahan awal. Untuk bantuan pupuk dan sarana produksi tambahan, Pemkab menargetkan mendukung lebih lanjut pada tahun anggaran berikutnya.
“Hingga 2027, kami ingin semua target tercapai dan masyarakat Gayo Lues bisa merasakan langsung manfaat dari pembangunan sektor perkebunan yang terencana. Ini sekaligus bagian dari visi besar kami menjadikan kopi Gayo sebagai komoditas unggulan daerah,” pungkas Abdul Hakim. (Syukri)






































