“PINING” Kondisi sungai yang berada persis di samping kompleks SMA Negeri 1 Pining, Kabupaten Gayo Lues, kian mengkhawatirkan. Setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut, debit air sungai dengan cepat meningkat dan meluap hingga menggenangi area sekolah. Ancaman banjir yang berulang ini tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga berpotensi besar mengganggu kegiatan belajar mengajar serta merusak aset pendidikan yang ada. Pihak sekolah mendesak agar pemerintah daerah melalui instansi terkait segera melakukan normalisasi sungai sebagai solusi permanen.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala SMA Negeri 1 Pining, Gemasih Ganti Nireta, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa banjir luapan sudah menjadi masalah kronis yang dihadapi sekolahnya selama bertahun-tahun. Menurutnya, kondisi tersebut semakin parah dalam beberapa waktu terakhir. Ia menggambarkan bagaimana para guru dan siswa selalu waswas setiap kali awan gelap mulai menyelimuti langit Pining. Kekhawatiran itu beralasan, sebab luapan air sungai datang dengan cepat dan sering kali tanpa bisa diprediksi ketinggiannya.
“Bila tiap-tiap hujan, sungai ini selalu banjir dan melimpah ke sekolah,” ujar Gemasih saat ditemui di lingkungan sekolah. Ia menjelaskan bahwa luapan air berwarna coklat pekat itu pertama-tama akan menggenangi halaman dan lapangan sekolah, sebelum akhirnya berpotensi masuk ke ruang-ruang kelas, laboratorium, dan ruang guru. Kondisi ini memaksa pihak sekolah untuk mengambil langkah antisipatif, seperti memulangkan siswa lebih awal demi keselamatan dan mengamankan peralatan elektronik serta dokumen-dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi.
Menurut pengamatan pihak sekolah, penyebab utama dari banjir yang terus berulang ini adalah kondisi sungai yang sudah mengalami pendangkalan dan penyempitan yang signifikan. Tumpukan sedimen berupa pasir dan bebatuan di dasar sungai membuat daya tampungnya menurun drastis. Akibatnya, ketika volume air meningkat saat hujan deras, alur sungai tidak lagi mampu menampungnya sehingga air melimpah ke dataran yang lebih rendah, dalam hal ini adalah area SMA Negeri 1 Pining.
Kegiatan belajar yang terganggu akibat banjir tentu menjadi keprihatinan utama. Gemasih menegaskan bahwa hak siswa untuk mendapatkan pendidikan dalam lingkungan yang aman dan nyaman menjadi terancam. Interupsi akibat banjir tidak hanya menghilangkan jam pelajaran yang berharga, tetapi juga menimbulkan trauma dan kecemasan bagi warga sekolah. Lebih jauh lagi, genangan air yang membawa lumpur juga berisiko merusak fasilitas sekolah secara perlahan, mulai dari bangunan fisik, perabotan, hingga buku-buku di perpustakaan.
Oleh karena itu, satu-satunya solusi yang dinilai paling efektif untuk mengatasi masalah ini adalah normalisasi sungai. Program normalisasi yang diharapkan mencakup pengerukan sedimen secara menyeluruh untuk memperdalam alur sungai, serta pelebaran dan penguatan tebing di beberapa titik kritis. Dengan daya tampung yang kembali optimal, diharapkan sungai tersebut mampu mengalirkan debit air hujan yang tinggi tanpa meluap. Pihak sekolah sangat berharap usulan ini dapat menjadi prioritas bagi pemerintah daerah.
Sebagai lembaga pendidikan yang merupakan aset vital bagi pengembangan sumber daya manusia di Kecamatan Pining, perlindungan terhadap SMA Negeri 1 Pining dari ancaman bencana semestinya menjadi perhatian bersama. Komunitas sekolah kini menanti respons dan langkah nyata dari pihak berwenang agar ancaman banjir tidak lagi menjadi momok yang menghantui setiap musim penghujan tiba, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar, aman, dan tanpa gangguan (Wahid)






































