Gayo Lues (Desa tetingi) – Upaya pemulihan masyarakat Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, terus berlanjut melalui penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan desa. Baitul Mal Merapi Merbabu (BM3) hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan tanam raya bersama penyuluh pertanian dan koordinator pertanian Pantan Cuaca. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Recovery Pulih Mi Ko Gayoku, sebuah gerakan pemulihan yang diarahkan untuk membantu warga bangkit secara bertahap setelah terdampak bencana.
Kehadiran BM3 dalam kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Sejak awal masa bencana hingga fase pemulihan saat ini, BM3 disebut terus mendampingi masyarakat dengan berbagai bentuk dukungan. Pendampingan itu bergerak dari pemenuhan kebutuhan mendesak, penguatan solidaritas warga, hingga dukungan terhadap sumber penghidupan masyarakat. Di Desa Tetingi, sektor pertanian menjadi salah satu fokus karena menjadi tumpuan ekonomi banyak keluarga.
Kegiatan tanam raya dilakukan bersama para petani dengan pendampingan penyuluh pertanian serta koordinator pertanian Pantan Cuaca. Kehadiran penyuluh dinilai penting agar proses tanam tidak hanya mengandalkan kebiasaan lama, tetapi juga memperhatikan teknis budidaya yang lebih terarah. Petani mendapat arahan mengenai persiapan lahan, pemilihan benih, pengaturan pola tanam, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman. Dengan pendampingan tersebut, kegiatan tanam raya diharapkan menjadi awal musim tanam yang lebih tertata dan produktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Program Recovery Pulih Mi Ko Gayoku yang dijalankan BM3 menempatkan pemulihan sebagai proses jangka panjang. Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan pada saat bencana terjadi, tetapi juga dukungan untuk kembali bekerja, menanam, memanen, dan membangun kemandirian ekonomi. Karena itu, kegiatan tanam raya dipandang sebagai simbol bahwa pemulihan tidak berhenti pada distribusi bantuan, melainkan harus sampai pada pulihnya daya hidup warga.
Dalam kegiatan ini, BM3 juga menyediakan dua unit jetor sebagai sumbangan untuk masyarakat Desa Tetingi. Bantuan alat pertanian tersebut diharapkan dapat membantu petani dalam mengolah lahan secara lebih cepat dan efisien. Selama ini, keterbatasan alat kerap menjadi salah satu kendala petani, terutama ketika memasuki musim tanam secara bersamaan. Dengan adanya dua unit jetor, pekerjaan pengolahan tanah yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar dapat dilakukan dengan lebih ringan.
Selain mendukung proses tanam dan penyediaan alat, BM3 juga mendorong pembangunan lumbung desa berbasis syariah. Lumbung desa ini dirancang sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Fungsinya tidak hanya sebagai tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga sebagai wadah pengelolaan cadangan pangan, penguatan modal sosial, dan dukungan bagi petani yang membutuhkan bantuan pada masa tertentu.
Konsep lumbung desa berbasis syariah menekankan prinsip amanah, transparansi, tolong-menolong, dan keadilan. Pengelolaan hasil pertanian maupun dukungan bagi petani diarahkan agar terhindar dari praktik yang memberatkan masyarakat. Dengan sistem yang jelas, lumbung desa dapat menjadi sarana bagi warga untuk menyimpan sebagian hasil panen, membantu keluarga yang membutuhkan, serta menjaga ketersediaan pangan ketika menghadapi masa sulit.
Pembangunan lumbung desa juga menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kemandirian masyarakat pascabencana. Dalam banyak situasi, masyarakat desa tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga sistem sosial dan ekonomi yang mampu menjaga keberlanjutan kehidupan mereka. Lumbung desa berbasis syariah diharapkan dapat menjadi pusat pengelolaan pangan bersama, sekaligus ruang untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong.
BM3 menempatkan Desa Tetingi sebagai salah satu titik pendampingan karena masyarakat dinilai memiliki semangat kuat untuk bangkit. Kegiatan tanam raya menunjukkan bahwa warga tidak ingin terus berada dalam kondisi bergantung pada bantuan. Mereka mulai kembali mengolah lahan, memperbaiki pola produksi, dan membangun harapan melalui pertanian. Dalam proses itu, dukungan alat, pendampingan teknis, dan penguatan kelembagaan desa menjadi sangat penting.
Kolaborasi antara BM3, penyuluh pertanian, koordinator pertanian Pantan Cuaca, dan masyarakat menjadi gambaran bahwa pemulihan membutuhkan kerja bersama. Penyuluh hadir dengan pengetahuan teknis, petani hadir dengan pengalaman dan tenaga, sementara BM3 mendukung melalui program sosial-ekonomi yang menyentuh kebutuhan langsung warga. Sinergi seperti ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan desa dan mengurangi risiko masyarakat kembali rentan ketika menghadapi persoalan serupa di masa depan.
Bagi warga Desa Tetingi, kehadiran BM3 sejak awal bencana hingga saat ini memberi arti bahwa pemulihan tidak dijalani sendirian. Pendampingan yang berkelanjutan membuat masyarakat memiliki ruang untuk menata kembali kehidupan mereka. Dengan semangat gotong royong, dukungan penyuluh, dan penguatan kelembagaan desa, proses pemulihan diharapkan tidak hanya mengembalikan keadaan seperti semula, tetapi juga membangun desa yang lebih kuat, mandiri, dan siap menghadapi masa depan. (Wahid)






































