BANDUNG BARAT , Radarnews.co.id — Euforia kemenangan pasangan Jeje Ritchie Ismail dan H. Asep Ismail dalam Pilkada Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak sepenuhnya menghadirkan kebahagiaan di semua lini.
Di balik keberhasilan politik tersebut, terselip kegelisahan dari barisan relawan akar rumput yang merasa ditinggalkan setelah perjuangan panjang mereka berbuah kemenangan.
Suara kekecewaan itu datang dari lapangan. Para relawan yang sejak awal menjadi motor penggerak kampanye—mulai dari pemasangan alat peraga hingga konsolidasi suara di tingkat desa—kini mengaku kehilangan akses, bahkan sekadar ruang komunikasi dengan pemimpin yang mereka menangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu relawan di Kecamatan Parongpong, Tris, mengungkapkan bahwa dedikasi yang diberikan selama masa kampanye seolah tak memiliki arti setelah pasangan tersebut resmi menduduki kursi kekuasaan.
“Kami bekerja tanpa pamrih, siang malam di lapangan. Tapi setelah mereka terpilih, jangankan dilibatkan, sekadar diingat pun tidak,” ujarnya dengan nada getir.
Kekecewaan tidak berhenti pada minimnya apresiasi. Sorotan juga diarahkan pada dinamika internal pasca kemenangan, khususnya dalam penempatan orang-orang di lingkar kekuasaan. Sejumlah relawan menilai munculnya figur-figur baru yang justru lebih dipercaya, meski tidak terlibat langsung dalam perjuangan awal.
Fenomena ini memunculkan tiga catatan krusial di tubuh pendukung:
Tertutupnya Ruang Dialog: Relawan awal mengaku sulit menjangkau komunikasi dengan pihak pemimpin terpilih.
Pergeseran Kepercayaan: Figur di luar barisan perjuangan disebut lebih mendapat tempat strategis.
Erosi Loyalitas: Minimnya pengakuan berpotensi mengikis soliditas basis pendukung di akar rumput.
Pengamat politik lokal menilai situasi ini tidak bisa dianggap sepele. Ketidakpuasan relawan berpotensi menjadi akumulasi kekecewaan yang berdampak pada stabilitas dukungan publik ke depan.
“Relawan adalah fondasi kemenangan. Jika mereka merasa diabaikan, bukan tidak mungkin akan muncul jarak antara pemerintah dan basis sosialnya,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Jeje Ritchie Ismail maupun H. Asep Ismail terkait keluhan yang mencuat dari internal relawan. Sikap diam ini justru mempertegas kesan adanya jarak yang kian melebar.
Kini publik menanti langkah konkret dari kepemimpinan Jeje–Asep: merangkul kembali barisan lama yang berjasa, atau membiarkan kekecewaan itu berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas.
Red tim investigasi






































