Gibran dan Dedi Mulyadi Mulai Teralihkan dari Perhatian Publik Setelah Purbaya Tampil dengan Kinerja Nyata

RADAR NEWS

- Redaksi

Rabu, 22 Oktober 2025 - 05:40 WIB

50514 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Kemunculan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke panggung utama pemerintahan membawa dinamika baru dalam arah kebijakan fiskal sekaligus memicu pergeseran persepsi publik terhadap figur-figur politik yang selama ini kerap mewarnai pemberitaan nasional. Dengan gaya kepemimpinan yang dianggap lugas, tegas, dan tanpa banyak polesan pencitraan, Purbaya mulai dibandingkan secara terbuka dengan tokoh-tokoh lain seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka maupun politisi Dedi Mulyadi yang dinilai lebih mengutamakan pendekatan personal-populis berbasis media sosial.

Direktur Politic and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menyebut Purbaya sebagai angin segar dalam dunia birokrasi yang tengah haus akan integritas dan keberanian mengambil keputusan. Dalam pandangannya, gaya koboi yang ditampilkan Purbaya justru memunculkan kekaguman di tengah masyarakat karena menunjukan keaslian kepemimpinan yang berorientasi pada kerja nyata, bukan sekadar citra.

“Ini pemimpin asli, bukan tiruan. Beda dengan gaya Gibran yang suka bagi-bagi skincare tapi dipertanyakan substansinya,” ujar Jerry dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/10/2025). Ia menambahkan bahwa meski tidak datang ke publik dengan gemerlap media dan visual yang dramatis, setiap langkah Purbaya tetap menjadi sorotan serius di masyarakat karena substansi dan keberaniannya membongkar problem struktural di sektor keuangan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam ruang politik pemerintahan, Purbaya bahkan disebut-sebut tidak segan menolak permintaan-permintaan penguasa lain bila itu tidak sejalan dengan prinsip tata kelola yang sehat. Salah satu contohnya, menurut Jerry, ialah ketika Wakil Presiden Gibran memanggil Purbaya ke Istana Wapres untuk membicarakan transfer dana ke daerah—yang diduga berkaitan erat dengan upaya menyelamatkan posisi Bobby Nasution, ipar Gibran, yang saat ini menjabat Gubernur Sumatera Utara. Namun, pertemuan itu konon tidak digubris oleh sang Menteri Keuangan.

Jerry juga menyoroti perbedaan mencolok antara Purbaya dan tokoh lain seperti Dedi Mulyadi yang menurutnya lebih sering mengemas semua kegiatan dalam drama dan setingan media. “Yang menarik dari Purbaya adalah tidak ada yang dia takuti selain Tuhan dan Presiden. Bahkan dia pernah melontarkan bahwa usianya sudah tua dan tidak ada yang perlu dia kejar. Kalau pun mati seperti Munir, diracun atau ditembak, dia tidak gentar. Baginya, melawan oknum nakal di pajak dan bea cukai adalah tugas yang tidak bisa ditawar,” katanya.

Tidak hanya itu, kiprah Purbaya di sektor fiskal juga tengah ramai diperbincangkan. Ia disebut telah membongkar dana-dana yang selama ini mengendap atau tidak segera dimobilisasi untuk pembangunan, termasuk deposito milik pemerintah daerah yang nilai totalnya mencapai lebih dari Rp60 triliun. Di tingkat kabupaten, misalnya, Bojonegoro disebut memiliki dana deposito Rp3,6 triliun, Kutai Barat Rp5,2 triliun dan Talaud Rp2,6 triliun. Sementara di tingkat provinsi, DKI Jakarta tercatat menyimpan dana Rp16,68 triliun, Jawa Timur Rp6,84 triliun dan Kalimantan Timur Rp4,7 triliun.

Langkah spektakuler Purbaya lainnya yang menjadi perbincangan hangat adalah kebijakan menarik dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia untuk kemudian dialihkan ke bank-bank BUMN agar dapat dimobilisasi ke sektor produktif melalui lembaga keuangan di lingkungan pemerintah. “Ini ide gila sekaligus brilian. Selama ini dana itu hanya diam di BI, tapi dia pindahkan ke sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi langsung,” ujar Jerry.

Tak hanya itu, kebijakan family office yang sempat digulirkan dan direncanakan menggunakan anggaran APBN pun ditolak mentah-mentah oleh Purbaya. Penolakan tersebut disebut-sebut sebagai awal dari ketegangan antara dirinya dan Ketua Dewan Ekonomi, Luhut Binsar Pandjaitan. Jerry menyebut bahwa Purbaya mampu membaca siasat Luhut yang mencoba mendapatkan pembiayaan terhadap proyek tersebut dan menilai ide itu sesat secara prinsipil.

Purbaya juga mengambil sikap tegas terkait proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang disebut mengalami pembengkakan biaya hingga tiga kali lipat. Laporan yang sampai ke publik, menyebut adanya mark-up besar dalam kerja sama antara pemerintah dengan mitra dari Tiongkok, yang membuat total nilai proyek mencapai Rp116 triliun. Purbaya menolak keras penggunaan dana APBN untuk menutup beban bunga proyek tersebut, yang dinilai tidak ekonomis dan membebani fiskal jangka panjang.

Selain membongkar deposito di daerah, Purbaya juga mencatatkan kinerja signifikan dalam mengembalikan dana negara yang sebelumnya tersangkut dalam kasus korupsi. Salah satunya adalah pengembalian dana sitaan sebesar Rp13 triliun dari kasus korupsi minyak sawit oleh Kejaksaan Agung ke kas negara melalui Kementerian Keuangan. Dari jumlah itu, masih tersisa sekitar Rp4 triliun yang saat ini sedang dalam tahap klarifikasi dan penyelesaian.

Pertanyaan besar yang muncul dari langkah Purbaya adalah: ke mana bunga dari ratusan triliun dana mengendap di bank tersebut mengalir selama ini. Jerry menyebut perlu ada peran aktif dari lembaga pengawas keuangan seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran bunga tersebut agar praktik-praktik tak sehat bisa diungkap tuntas.

Di tengah gebrakan dan keberaniannya, tak sedikit pejabat yang dikabarkan merasa terusik dengan gaya kepemimpinan Menteri Keuangan saat ini. Jerry mengatakan bahwa dalam sejumlah rapat terbatas dengan Presiden, banyak menteri yang memilih diam dan bahkan tidak menyapa Purbaya. Hal itu, menurutnya, menandakan bahwa kebijakan fiskal yang keras dan berorientasi pada efisiensi serta transparansi mulai mengguncang kenyamanan internal para pejabat.

Meski demikian, publik tampaknya semakin menaruh perhatian dan harapan besar pada figur yang lahir dari tradisi ekonomi Keynesian ini. Ketegasan dan kesederhanaan Purbaya justru dilihat sebagai kekuatan moral yang membawa arah baru dalam kepemimpinan teknokratis Indonesia. Di tengah gelombang gaya populisme dan kebijakan simbolik yang selama ini mendominasi panggung politik nasional, figur seperti Purbaya menjadi oase yang mengajak bangsa kembali pada fondasi akal sehat, integritas, dan keberanian melawan sistem yang korup.

Berita Terkait

Kampung Kota Rikit Gaib di Bawah Kepemimpinan Taher Raih Skor 90,5, Pemkab Gayo Lues Terima Penghargaan KPK
ust Julianto pane. Polisi Inovatif, Mendirikan Pesantren Ruhul ‘Azam
Kasat Narkoba Polres Gayo Lues AKP Kabri Terima Penghargaan Usai Ungkap Kasus Narkoba dan Musnahkan 26,5 Hektare Ladang Ganja
Tagline Boleh Berganti, Tetapi Integritas Jangan Dikompromikan
Tindak Tegas Oknum yang Bermain-Main Dengan Laporan Masyarakat
Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa
TEBANG PILIH HUKUM DI BALIK JERUJI BESI!  Skandal 10 Klaster Mewah Ilegal di Lapas Cibinong Akhirnya Hancur Diratakan Ekskavator
Jerry Massie Kritik Keras Jokowi, Sebut Pemerintahannya Kental dengan Kontroversi Pernyataan dan Janji yang Tak Kunjung Terbukti

Berita Terbaru

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:19 WIB

Kompak dan Bersinergi, Satgas TMMD dan Warga Gotong-royong Rehab Masjid dan Tempat Wudhu

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Babinsa Komsos Dengan Tokoh Masyarakat Di Wilayah Desa Binaan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Tim Wasev Kunjungi Lokasi TMMD ke-130 TA 2026 Kodim 0113/Gayo Lues

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:37 WIB

KODIM 0113/GAYO LUES KORAMIL 09/PUTRI BETUNG ​TNI dan Warga Gotong Royong Lanjutkan Pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Dusun Tebangun

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:33 WIB

Babinsa Pos Ramil Dabun Gelang dampingi Penyaluran Makan Bergisi Gratis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Musim Hujan, Babinsa Ingatkan Warga Waspada Bencana Alam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:56 WIB

Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah Gayo Lues – Pengerjaan sumur bor pada Sasaran Program Unggulan TNI AD dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-130 Tahun 2026 Kodim 0113/Gayo Lues mulai dilaksanakan. Sebanyak dua titik sumur bor akan dibangun di dua Desa, yaitu Kampung Pepelah dan satu lagi di kampung Gajah Kecamatan Pining. Tentunya diharapkan bantuan ini dapat membantu mengurangi krisis air yang selama ini dialami warga, sehingga masyarakat dapat lebih mudah memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Anggota Satgas bersama warga bahu membahu membuat sumur bor demi terciptanya air bersih yang layak pakai. Kehadiran Satgas TMMD ke-130 Kodim Gayo Lues di tengah masyarakat tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat melalui kerja nyata yang memberikan manfaat langsung bagi warga. Dansatgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Letkol Arm Frans Desiafan Eka Saputra, S.H melalui Wadansatgas Kapten Inf MHD Syafi’i Sirait mengatakan, bahwa program penyediaan air bersih ini juga menjadi bagian dari komitmen TNI melalui TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues untuk membantu percepatan pembangunan di wilayah pedesaan, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan akan air bersih selama musim kemarau. Melalui pembangunan fasilitas air bersih tersebut, diharapkan masyarakat di sekitar dua kampung tersebut dapat memperoleh akses air yang lebih mudah dan memadai untuk menunjang aktivitas rumah tangga, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kualitas kesehatan warga. Kita berharap bahwa dengan pembuatan sumur bor ini, warga Kampung Pepelah dan Kampung Gajah dapat memiliki akses ke air bersih yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” kata Wadansatgas.

Berita Terbaru