Dari sebuah desa kecil bernama Rikit di Kecamatan Bambel, tumbuh tiga bersaudara putra-putra terbaik daerah yang kini menebar manfaat di berbagai bidang. Mereka adalah putra-putra dari Alm. *H. Abdul Wahab* dan *Hj. Ibu Sediah* , pasangan yang telah mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai agama dan kerja keras.
Putera pertama, *Wahidinsyah* , merupakan contoh nyata dari dedikasi seorang abdi negara yang konsisten. Lulusan Pesantren Arraudlatul Hasanah tahun 2004 ini telah menapaki jenjang karir birokrasi dengan penuh ketekunan. Rekam jejak pelayanannya dimulai sebagai Pegawai Negeri Sipil di SDN 3 Terangun pada tahun 2009, sebelum kemudian dipercaya mengabdikan diri di Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues dari tahun 2011 hingga 2017. Pengalaman di sektor pendidikan tersebut menjadi fondasi kuat baginya untuk memahami kompleksitas pelayanan publik. Karirnya terus berlanjut dengan mutasi ke Dinas Pertanahan pada tahun 2018, dan selanjutnya berkontribusi dalam Pokja UKPBJ Setdakab Gayo Lues selama periode 2019 hingga 2022.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komitmen Wahidinsyah terhadap pembangunan daerah semakin terlihat saat ia bertugas sebagai analis keuangan di Dinas Perdagangan dari tahun 2021 hingga 2025, dan Posisi sekarang ini bertugas sebagai staf Sekretariat MPD Gayo Lues pada tahun 2026. Di sela-sela kesibukannya mengabdi sebagai PNS, Wahidinsyah juga menunjukkan jiwa kewirausahaan yang kuat dengan memiliki usaha jual beli komputer dan berbagai kebutuhan teknologi lainnya yang berlokasi di Blangkejeren. Keharmonisan rumah tangganya dibangun bersama sang istri, Ida Wahyuni, S.E., yang juga berstatus sebagai PNS di MAA Gayo Lues. Pasangan ini telah dikaruniai empat orang anak, yang menjadi motivasi tambahan bagi Wahidinsyah untuk terus bekerja keras dan memberikan contoh terbaik bagi generasi berikutnya.
adik keduanya *Sarudin* .* Ia saat ini bekerja di P3K Mahkamah Syariah Blangkejeren, sebuah posisi yang menuntut pemahaman mendalam mengenai hukum keluarga Islam dan integritas tinggi dalam melayani masyarakat pencari keadilan. Peran Sarudin di lembaga peradilan agama ini menjadi pelengkap dari ekosistem pelayanan publik di Gayo Lues yang dibangun oleh keluarganya. Dalam menjalankan tugasnya, ia didukung penuh oleh sang istri, Aida Sopia, yang merupakan seorang guru di SDN 3 Blangkejeren. Sinergi antara Sarudin yang berkecimpung di ranah hukum syariah dan istrinya yang berdedikasi di dunia pendidikan dasar menciptakan lingkungan keluarga yang menyeimbangkan aspek spiritual dan intelektual. Mereka telah dikaruniai dua orang anak yang kini menjadi tanggung jawab bersama untuk dididik menjadi generasi yang berbakti.
sementara itu Adik bungsu, *H. Abdul Kadir, S.Ag* ., Alhafizd, memilih jalur yang lebih spesifik dalam pendalaman ilmu agama dan hafalan Al-Qur’an. Gelar Alhafizd yang disandangnya merupakan bukti dari kesungguhannya dalam menghafal kitab suci, yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan masyarakat Desa Rikit. Secara akademis, H. Abdul Kadir terus mengasah kompetensinya setelah menyelesaikan studi Strata-1 di PTIQ Jakarta Selatan pada tahun 2023. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di UINSU Medan, menunjukkan bahwa semangat belajar dalam keluarga ini tidak pernah padam meski telah meraih berbagai gelar. Berbeda dengan kedua kakaknya yang berdomisili di Gayo Lues, H. Abdul Kadir saat ini mengabdikan diri di tanah Jawa, tepatnya bekerja di P3K SPPI Kabupaten Garut, Jawa Barat, sejak tahun 2025 hingga sekarang. Keberadaannya di Jawa Barat menandakan bahwa kualitas sumber daya manusia yang lahir dari didikan keluarga Alm. H. Abdul Wahab mampu bersaing dan diterima di berbagai wilayah Indonesia.

Kisah tiga bersaudara ini memberikan perspektif yang luas mengenai bagaimana pendidikan yang ditanamkan oleh orang tua di daerah dapat membuahkan hasil yang beragam namun tetap dalam koridor pengabdian. Mulai dari Wahidinsyah yang fokus pada birokrasi dan ekonomi daerah, Sarudin yang memperkuat lembaga syariah, hingga H. Abdul Kadir yang mendalami ilmu Al-Qur’an dan berkarir lintas provinsi. Semua pencapaian ini tidak lepas dari peran Alm. H. Abdul Wahab dan Hj. Ibu Sediah yang telah meletakkan dasar keimanan dan kedisiplinan di Desa Rikit. Keberhasilan mereka juga didukung oleh pasangan hidup yang memiliki visi serupa dalam membangun keluarga, di mana istri-istri mereka pun merupakan wanita karir yang aktif berkontribusi di sektor pendidikan dan pemerintahan.
Di tengah dinamika pembangunan Kabupaten Gayo Lues, keberadaan figur-figur seperti keluarga ini menjadi inspirasi bagi pemuda-pemudi di Kecamatan Bambel khususnya. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah halangan untuk meraih prestasi. Melalui jalur pendidikan formal, pesantren, dan karir profesional, ketiga bersaudara ini telah menorehkan nama baik keluarga dan daerah asalnya. Usaha jual beli komputer yang dijalankan Wahidinsyah di Blangkejeren juga menjadi indikator bahwa sektor ekonomi kreatif dan teknologi mulai tumbuh di wilayah tersebut, didorong oleh pelaku usaha yang memahami kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, narasi kesuksesan keluarga ini adalah tentang konsistensi. Konsistensi dalam belajar, konsistensi dalam mengabdi, dan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai agama. Meskipun sang ayah telah tiada, warisan nilai yang ditinggalkan terus hidup melalui tindakan nyata anak-anaknya. Baik itu dalam pelayanan administrasi kependudukan, penanganan perkara di mahkamah syariah, maupun dakwah melalui pendidikan Islam di perantauan. Masyarakat Gayo Lues dapat melihat langsung bahwa investasi terbaik orang tua adalah pendidikan anak, yang pada waktunya akan kembali memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat dan bangsa. Perjalanan karir mereka yang masih terus berlanjut, termasuk rencana penugasan di masa mendatang, diharapkan dapat terus memberikan dampak positif yang lebih luas bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. ( _Jurnalis Radarnews_ )






































