Kementerian PUPR Dinilai Lalai, PT Horas Bangun Persada Menang Lelang Proyek Meski Legalitas Galian C Dipertanyakan

RADAR NEWS

- Redaksi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:11 WIB

5054 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TENGGARA — Proses lelang proyek penanganan longsor jalan nasional di ruas batas Gayo Lues–Aceh Tenggara–Kota Kutacane kembali menuai sorotan tajam. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga dinilai keliru ketika menunjuk PT Horas Bangun Persada sebagai pemenang tender, padahal hingga kini legalitas sumber material galian C milik perusahaan tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

 

Pada papan proyek yang terpampang di lokasi pekerjaan, tertera jelas kontrak dengan nilai Rp16,18 miliar ditandatangani pada 26 Mei 2026. Namun, proses audit lapangan dan klarifikasi penyedia material menyingkap fakta bahwa PT Horas Bangun Persada diduga kuat belum mampu membuktikan asal-usul material galian C yang sesuai regulasi dan perizinan tambang, sebagaimana dipersyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa Kementerian PUPR tetap meloloskan PT Horas Bangun Persada sebagai pelaksana pekerjaan strategis nasional tanpa verifikasi ketat terhadap dokumen legalitas galian C? Apakah proses evaluasi administrasi dan penilaian kualifikasi rekanan dilaksanakan secara formalitas, atau ada tahapan yang dilonggarkan demi percepatan proyek, dengan mengorbankan aspek hukum dan akuntabilitas penggunaan dana APBN?

Dalam tata kelola pengadaan proyek pemerintah, semua peserta lelang wajib memenuhi syarat administratif dan teknis, termasuk kepemilikan izin resmi terkait sumber daya material yang digunakan. Apabila dokumen izin tambang atau alur pasokan material tidak jelas, maka kontraktor seharusnya didiskualifikasi sejak awal tahapan evaluasi. Patut dipertanyakan peran panitia tender, PPK, hingga pengawas lapangan — apakah hanya berfokus pada aspek fisik dan harga, namun abai terhadap urgensi legalitas dan kepatuhan hukum?

Situasi ini bukan hanya berpotensi melanggar ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah, namun juga membuka ruang praktik dugaan manipulasi dokumen dan penyelundupan material ilegal ke dalam proyek negara. Jika benar terkonfirmasi, konsekuensi hukum dapat menjerat semua pihak yang terlibat, mulai dari pelaksana, konsultan pengawasan, hingga pejabat pembuat keputusan di Kementerian PUPR.

Berbagai kalangan menegaskan, KPK, Mabes Polri, dan Polda Aceh perlu turun langsung untuk melakukan investigasi menyeluruh, demi menjawab dugaan kelalaian administrasi yang bisa berujung tindak pidana korupsi atau kejahatan lingkungan. Kejelasan legalitas sumber material bukan sekadar formalitas dokumen, namun bagian pokok yang menentukan kualitas hasil kerja, perlindungan lingkungan, serta optimalisasi pendapatan negara dari sektor pajak dan retribusi.

Ketika pertanyaan mendasar atas proses pengadaan justru dijawab dengan bungkamnya pihak-pihak terkait, ketidakpercayaan publik terhadap integritas proyek nasional pun kian mengemuka. Mengapa Kementerian PUPR tetap memberikan kepercayaan kepada perusahaan yang belum jelas izin legalitas galian C-nya? Publik berhak mendapat penjelasan resmi dan transparan dari pemerintah, bukan hanya mengedepankan seremonial kerja fisik.

Jika pengawasan internal Kementerian PUPR longgar, tugas aparat penegak hukum menjadi semakin urgent. Kasus ini menjadi preseden penting agar evaluasi kualifikasi perusahaan dalam setiap lelang proyek dana negara tidak hanya dilakukan di atas kertas, melainkan juga diverifikasi hingga ke lapangan, demi menjamin setiap rupiah uang rakyat dikelola dengan penuh tanggung jawab dan sesuai aturan hukum.

(Tim Redaksi)

 

Berita Terkait

Legalitas Material Proyek Longsor Jalan Nasional Aceh Tenggara Dipertanyakan, APH dan Mabes Polri Diminta Turun Tangan
Atap Bocor, Ruang Kelas MTsN 2 Aceh Tenggara Butuh Perhatian Pemerintah
Perdagangan Manusia Kejahatan Luar Biasa, HTW Serukan Penegakan Hukum Tegas dan Perlindungan bagi Korban
13 Anggota MPD Gayo Lues Periode 2026-2031 Terpilih melalui Mubes
35 Calon Berebut 13 Kursi Anggota Majelis Pendidikan Daerah Gayo Lues Periode 2026-2031**
Jejak Pengabdian AKBP Yulhendri di Aceh Tenggara: Ketegasan, Humanisme, dan Sinergi yang Patut Dikenang
Kepala Cabang Bungkam, Publik Cemas: Isu Intimidasi dan Pelecehan di BSI Kutacane Belum Terjawab
Mengukir Jejak, Melanjutkan Amanah : Polres Aceh Tenggara Sambut Pemimpin Baru dengan Semangat Presisi

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:50 WIB

Polres Banyuasin Lakukan Ground Check Titik Hotspot di Area Rawa Desa Seri Kembang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:46 WIB

Cegah Dampak Kabut Asap, Kapolres Banyuasin Bagikan 200 Masker kepada Pelajar SDN 03 Rambutan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:43 WIB

Dorong Ketahanan Pangan, Bhabinkamtibmas Polsek Talang Kelapa Ajak Warga Manfaatkan Pekarangan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:40 WIB

Kunjungi Posko Karhutla 04 Sako, Kapolres Banyuasin Beri Dukungan dan Apresiasi kepada Petugas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Cegah Dampak Karhutla, Polres Banyuasin Bagikan Masker kepada Pelajar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:16 WIB

Gerakkan P2B, Bhabinkamtibmas Polsek Muara Padang Dorong Warga Dukung Swasembada Pangan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:13 WIB

33 Hektar Lahan Hangus Dilalap Api, 4 Pelaku Pembakaran Diamankan Polres Banyuasin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 00:08 WIB

Bhabinkamtibmas Tanjung Lago Ajak Warga Dukung Program P2B

Berita Terbaru