Kepala Cabang Bungkam, Publik Cemas: Isu Intimidasi dan Pelecehan di BSI Kutacane Belum Terjawab

RADAR NEWS

- Redaksi

Minggu, 19 Juli 2026 - 06:46 WIB

50313 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTACANE | Gelombang keresahan mengguncang Bank Syariah Indonesia Kantor Cabang Kutacane, Aceh Tenggara. Sejak Jumat (18/7), pesan WhatsApp berisi tudingan keras terhadap Kepala Cabang, Roni Indrawan Nasution, menyebar kilat di antara karyawan dan masyarakat. Keluhan itu tak main-main: penolakan bekerja di bawah kepemimpinan Roni, dugaan gaya kerja yang intimidatif, hingga tuduhan pelecehan verbal pada karyawati, dan ancaman bagi siapa saja yang mencoba bicara terbuka. Kekhawatiran ini meluber ke luar kantor, bergerak liar di ruang digital, memperlihatkan betapa serius luka di internal institusi keuangan syariah ini.

Mencermati pesan berantai tersebut, yang hingga kini belum terverifikasi keabsahannya, tetap tersimpan satu fakta yang jelas: ada krisis kepercayaan yang tidak bisa dianggap lalu. Sisi gelap kantor terkuak ke permukaan, memperlihatkan dugaan praktik intimidasi dan budaya takut yang mengungkung karyawan. Desakan untuk membawa masalah ini ke jalur resmi, bahkan mengancam aksi terbuka di luar kantor, menjadi penanda putusnya dialog sehat di tubuh manajemen BSI Kutacane.

Ironisnya, Kepala Cabang Roni Indrawan Nasution menolak angkat bicara. Permintaan konfirmasi, baik via WhatsApp maupun telepon, masih mengambang tanpa balasan—sebuah sikap yang kian menguatkan persepsi penghindaran, bukan penjelasan. Pihak kehumasan BSI Aceh, Nasruddin, pun tampil dengan tanggapan datar: “Belum ada bukti yang valid.” Dengan kata lain, manajemen cenderung pasif, nyaris menepis sebelum benar-benar menyelidiki persoalan di lapangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Persoalan ini justru menempatkan BSI dalam posisi genting. Bukan sekadar soal benar atau tidaknya isi pesan yang beredar, melainkan respon lamban dan tertutup manajemen terhadap suara-suara kerisauan di internal. Penghambatan informasi semacam ini bisa menjadi boomerang, sebab lembaga sekelas bank syariah wajib menjunjung transparansi dan akuntabilitas. Tanpa langkah investigatif yang nyata dan terbuka, tudingan terus berseliweran, kepercayaan publik kian digerus.

Manajemen BSI, baik di Kutacane maupun di tingkat pusat, seharusnya sadar bahwa membiarkan rumor berkembang tanpa tindakan cek fakta adalah kelalaian fatal. Pembiaran seperti ini ibarat menambah bara dalam sekam—kepercayaan yang telah retak bisa runtuh sepenuhnya. Para pegawai terperangkap dalam situasi tak pasti, atmosfer kerja rusak, pelayanan kepada nasabah pun rawan terganggu akibat suhu ketidaknyamanan yang terus naik.

Dampaknya jelas: masyarakat mulai bertanya-tanya, sampai kapan isu ini diabaikan? Bsi yang seharusnya menjadi panutan integritas justru digerogoti oleh persoalan internal yang lambat ditangani. Jika aspirasi dan keluhan karyawan dibungkam dengan diam seribu bahasa, maka yang dipertaruhkan bukan hanya martabat institusi, namun juga rasa aman bekerja dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan itu sendiri.

Jika Bank Syariah Indonesia masih ingin dianggap sebagai lembaga yang beradab, sudah waktunya meninggalkan pola respons tertutup. Klarifikasi terbuka, investigasi yang objektif, dan sanksi jika terbukti terjadi pelanggaran adalah mandat mutlak bagi penyelamatan moral di tubuh bank ini. Kebenaran tak bisa terus dipinggirkan, dan publik menunggu langkah nyata—bukan alasan pengalihan. Keadilan internal adalah ujian sesungguhnya bagi reputasi dan kredibilitas institusi keuangan syariah hari ini.

Laporan : Salihan Beruh/Red

Berita Terkait

Persoalan Uang Wakaf dan Infak Masjid Al-Falah Aceh Tenggara Diinformasikan Selesai, Keluarga Rencanakan Pemeriksaan Kesehatan
Musda X Golkar Aceh Tenggara: Denny Febrian Roza Ambil Kendali, Arah Baru Partai Mulai Dipertanyakan
MUSDA X Golkar Aceh Tenggara: Konsolidasi atau Pertarungan Kursi Ketua?
Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa
Yahdi Hasan Ramud : Meniti Jalan Panjang Dari Bumi Sepakat Segenep, Hingga Panggung DPRA
DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH
Kejutan Pendatang Baru, SDN 3 Blangkejeren Cetak Sejarah di Kejuaraan Pencak Silat Piala PDM 2026
SDA Aceh dan Geopolitik: Antara Kekayaan Alam dan Kepentingan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:59 WIB

Polsek Banyuasin I Siapkan Patroli Karhutla, Petakan Wilayah Rawan Kebakaran

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Polres Banyuasin Gelar Razia Gabungan di Betung, Dua Orang Diamankan dalam Penindakan Narkoba

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:58 WIB

Cegah Karhutla, Tim Gabungan Polres Banyuasin Gelar Patroli dan Edukasi Masyarakat di Banyuasin I

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Dukung Swasembada Pangan Nasional, Bhabinkamtibmas Polsek Tanjung Lago Aipda Purnomo,SH. Ajak Warga Desa Banyu Urip Kec. Tanjung Lago Kembangkan Pekarangan Produktif

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Cegah Karhutla, Bhabinkamtibmas Polsek Makarti Jaya Edukasi Warga Desa Upang Marga

Minggu, 11 Oktober 2026 - 23:16 WIB

Dukung Swasembada Pangan Nasional, Bhabinkamtibmas Polsek Banyuasin II Aipda Andrianto, Ajak Warga Desa Muara Sungsang Kec. Banyuasin II Kembangkan Pekarangan Produktif

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 22:04 WIB

Patroli Terpadu Cegah Karhutla di Desa Pulau Muning, Hotspot Terdeteksi Nihil

Berita Terbaru

REGIONAL

Semangat Gotong-royong TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues

Rabu, 14 Okt 2026 - 09:04 WIB