Takalar – radarnwes.co.id | Program unggulan presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat beragam kelompok usia telah mengungkap rincian perhitungan biaya per porsi, yang mencapai total Rp15.000. Angka ini menjadi sorotan karena tidak hanya mencakup komponen makanan dan gizi semata, melainkan juga memperhatikan aspek operasional serta infrastruktur yang mendukung kelangsungan program secara berkelanjutan.
Sebesar Rp8.000 hingga Rp10.000 dari total biaya dialokasikan untuk komponen makanan dan gizi per porsi. Program ini diperuntukkan bagi kelompok sasaran strategis yaitu balita, anak dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, ibu hamil, serta ibu menyusui. Porsi makanan dirancang untuk memberikan asupan gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
Sebesar Rp3.000 per porsi dialokasikan untuk keperluan operasional program. Komponen ini mencakup biaya gaji karyawan yang terlibat dalam pelaksanaan MBG, serta pengeluaran untuk listrik dan gas yang digunakan dalam proses pembuatan makanan. Alokasi ini penting untuk memastikan tenaga kerja mendapatkan imbalan yang layak dan aktivitas memasak dapat berjalan lancar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sisa biaya sebesar Rp2.000 per porsi digunakan untuk keperluan sewa tempat pelaksanaan program dan peremajaan alat masak serta fasilitas pendukung lainnya. Selain sewa ruang, dana ini juga digunakan untuk pemeliharaan dan penggantian peralatan memasak yang sudah tidak layak pakai, serta pemeliharaan fasilitas yang mendukung proses produksi makanan bergizi.
Penting untuk diperjelas bahwa total biaya Rp15.000 per porsi bukan hanya untuk makanan saja, melainkan merupakan kombinasi dari 8-10 ribu untuk komponen makanan dan gizi, Rp3.000 untuk operasional, serta Rp2.000 untuk sewa dan peremajaan alat. Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan transparansi kepada masyarakat terkait penggunaan dana dalam program MBG.
Selain manfaat gizi yang diberikan kepada masyarakat, program MBG juga memberikan dampak ekonomi positif bagi desa. Beberapa kontribusi utamanya antara lain membuka lapangan pekerjaan yang tidak memerlukan latar belakang pendidikan tertentu, sehingga memberikan kesempatan kerja yang lebih luas bagi warga desa.
Dampak ekonomi lainnya adalah program ini mampu menyerap hasil tani dan ternak lokal, sehingga mendorong kemakmuran petani dan peternak setempat. Selain itu, MBG juga berkontribusi dalam membangun ekosistem ketahanan pangan nasional, menumbuhkan wirausaha baru di sektor makanan, serta memastikan generasi muda mendapatkan asupan gizi seimbang yang menjadi dasar untuk produktivitas di masa depan.
( Darwis Tompo )





































