Pj. Pengulu Diduga Sewenang-Wenang, Warga Kute Lawe Tawakh Geruduk Kantor Bupati

RADAR NEWS

- Redaksi

Minggu, 19 Oktober 2025 - 22:48 WIB

50650 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane, (19/10/2025) , Radarnews  – Kemarahan warga Kute Lawe Tawakh, Kecamatan Babul Makmur, Kabupaten Aceh Tenggara, memuncak seiring mencuatnya dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Penjabat (Pj.) Pengulu desa, Jumatidin. Warga bersama Ketua Badan Permusyawaratan Kute (BPK) secara langsung melaporkan sang Pj. Pengulu ke Bupati Aceh Tenggara, H.M. Muhammad Salim Fakhri, S.E., M.M., dengan tudingan kepemimpinan yang dinilai arogan, tidak transparan, dan jauh dari prinsip tata kelola pemerintahan desa yang baik. Lebih dari 50 warga ikut mengantarkan laporan tersebut, lengkap dengan sejumlah bukti sebagai bentuk keseriusan tuntutan mereka. Selain ingin mendapat keadilan, kedatangan warga ke kantor bupati juga menegaskan bahwa keresahan akan kepemimpinan saat ini bukan sekadar isu personal, melainkan persoalan menyangkut harkat dan martabat pelayanan publik di desa mereka.

Salah satu kasus yang memicu kemarahan warga adalah dugaan penyimpangan anggaran pada proyek rehabilitasi jembatan tani yang dianggarkan sebesar Rp47 juta dari APBDes tahap pertama tahun anggaran 2025. Realisasi fisik di lapangan ditengarai tak sesuai dengan alokasi anggaran. Hanya terlihat pengecoran sepanjang tujuh meter tanpa papan proyek maupun rincian pelaksanaan yang jelas. Warga mempertanyakan ke mana sisa anggaran tersebut dialihkan. Persoalan serupa juga muncul terkait pemotongan gaji perangkat desa, di mana gaji yang seharusnya dibayarkan selama sembilan bulan justru hanya diterima selama lima bulan tanpa alasan yang dapat diterima. Penjelasan lisan dari pengulu yang menyebut keterlambatan administratif tidak lagi dianggap relevan oleh warga.

Ketua BPK, Saliman, bahkan membeberkan sejumlah kegiatan lain yang diduga fiktif atau asal-asalan pelaksanaannya. Di antaranya, normalisasi sungai dengan anggaran Rp50 juta, kegiatan FHBI sebesar Rp25 juta, alokasi dana PAUD Rp20 juta, serta program Padat Karya Tunai Desa (PKTD) senilai Rp10 juta. Semua kegiatan tertuang dalam dokumen anggaran, namun di lapangan hasilnya dinilai nyaris tidak ada. Saliman menyebut hal ini sebagai bentuk pelecehan terhadap hak masyarakat serta pembiaran terhadap praktik yang dapat merusak kepercayaan publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi makin memanas tatkala Jumatidin disebut sering tidak berada di tempat, menyebabkan pelayanan administrasi desa terganggu. Kekecewaan warga semakin dalam ketika dalam momen duka cita berupa kematian orang tua bendahara desa, sang pengulu tidak hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Tindakan ini dinilai sebagai cermin kurangnya empati terhadap masyarakat yang dipimpinnya sendiri. Tak hanya itu, gesekan internal dengan tokoh adat dan agama juga mencuat ke permukaan, termasuk dengan imam kute, setelah kegiatan FHBI 1 Muharram 1447 H tidak direalisasikan meski dananya telah dianggarkan. Kondisi ini memperkuat anggapan warga bahwa sang pengulu tidak hanya gagal dalam perencanaan dan realisasi pembangunan desa, tetapi juga kurang peduli terhadap aspek sosial dan kultural masyarakat.

Di sisi lain, Jumatidin membantah semua tuduhan yang dilontarkan warga. Ia mengklaim bahwa semua program telah dilaksanakan sesuai prosedur dan mengikutsertakan masyarakat dalam prosesnya. Penundaan pembayaran gaji perangkat desa diakuinya sempat terjadi karena surat keputusan (SK) perangkat belum diterbitkan, namun menurutnya kini semua pembayaran telah diselesaikan. Ia bahkan menunjukkan beberapa dokumen kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Terkait laporan ke bupati, Jumatidin menyatakan bahwa tindakan tersebut bermotif politik, dengan menyebut adanya pihak-pihak yang ingin mengambil alih posisinya. Menurutnya, pelaporan yang dilakukan BPK beserta warga merupakan bagian dari manuver untuk menjatuhkan dirinya demi kursi jabatan.

Namun, warga tetap pada pendirian mereka. Aspirasi yang disampaikan bukan semata urusan individual, tetapi kejenuhan akibat dugaan ketidakberesan yang berlarut-larut. Mereka menegaskan akan melanjutkan laporan ke Inspektorat Kabupaten, dan bila perlu membawa kasus ini ke Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara. Sejumlah tokoh masyarakat menyatakan kesiapannya memberikan kesaksian dan menyerahkan dokumen pendukung demi menegakkan keadilan atas penggunaan dana desa yang dinilai tidak sesuai. Bagi mereka, pelaporan ini bukan hanya cara untuk mencari keadilan, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral agar tidak terjadi preseden buruk bagi desa-desa lain di wilayah Aceh Tenggara.

Di tengah derasnya tuntutan publik, warga berharap kepada Bupati agar segera menurunkan tim khusus untuk melakukan audit Dana Desa Kute Lawe Tawakh serta mengevaluasi kinerja Pj. Pengulu. Mereka menginginkan pemerintahan desa dijalankan oleh sosok yang amanah, transparan, dan mampu menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan desa. Aspirasi kolektif ini mencerminkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap anggaran desa kian meningkat, dan mereka tidak segan bersuara ketika terjadi penyelewengan. Suara-suara warga ini seolah menjadi peringatan bahwa kekuasaan di tingkat desa bukanlah ruang bebas kepentingan pribadi, melainkan medan pengabdian bagi kepentingan bersama.

Fernando H

Berita Terkait

Senyum Anak Yatim Menghiasi Jumat Berkah, Kapolres Aceh Tenggara Salurkan Bantuan Penuh Kasih
Kapolres Agara Lepas Karnaval Budaya, Warna-Warni Tradisi Semarakkan Hari Jadi Ke-52 Kabupaten Aceh Tenggara
SMA Negeri 1 Kutacane Terus Berinovasi Cetak Generasi Unggul dari Tanoh Alas
Dana Miliaran Digelontorkan, Namun 70 Persen Penghuni Lapas Kutacane Terjerat Narkoba, Ada Apa dengan Penanganan Narkoba di Aceh Tenggara?
Revitalisasi SD Negeri 2 Kuning: Ratusan Lembar Seng Raib, Kepala Sekolah Diduga Monopoli Proyek
Empat Tahun Menanti Kepastian Hukum, Pelapor Pertanyakan Keseriusan Penanganan Kasus DPO Penipuan dan Penggelapan
Ucapan Terima Kasih Keluarga Besar Joyce Christine Br. Hutauruk
Putri Tanoh Alas di Grand Final Duta FILKOM UB 2026, Aceh Tenggara Diajak Bersatu Memberi Dukungan

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 15:43 WIB

Sesuai Narasi Unggahan Tik Tok Aseng Bupati Karo Bantah dan Tidak Pernah Menyerukan Aksi Tabrak Pelaku Pungli di Pemandian Air Panas

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:53 WIB

Rumah Ilmu Yang Menghangatkan: SMAN 8 Pekanbaru Buktikan Guru Yang Terus Belajar Lahirkan Generasi Emas

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:35 WIB

Dandim 0113/Gayo Lues Pimpin Pengecekan Lahan dan Pembukaan Jalan Karya Bhakti TNI TA 2026 di Desa Pertik

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Babinsa 08/Blangpegayon pererat tali silaturahmi Komsos dengan Warga binaan

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:27 WIB

Babinsa komsos dengan tokoh masyarakat didesa binaan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:14 WIB

Babinsa Koramil 05/Pining Laksanakan Komsos dan Monitoring Pembagian MBG di SD Negeri Pining

Sabtu, 27 Juni 2026 - 01:29 WIB

Heboh! Baznas Ogan Ilir Diduga Langkahi Kades, Bedah Rumah ODGJ Picu Tanda Tanya Besar, Publik Desak Buka Dokumen!

Sabtu, 27 Juni 2026 - 00:21 WIB

Tingkatkan Kesigapan Petugas, Lapas Binjai Gelar Simulasi Penanganan Kebakaran Dengan Dinas Damkar Pemko Medan

Berita Terbaru