Harga Kakao Kering di Aceh Tenggara Ditetapkan Rp55.000 per Kilogram

RADAR NEWS

- Redaksi

Selasa, 28 Oktober 2025 - 23:23 WIB

50860 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

𝗔𝗖𝗘𝗛 𝗧𝗘𝗡𝗚𝗚𝗔𝗥𝗔 — Para petani kakao di Aceh Tenggara mendapatkan kepastian terkait harga jual hasil panen mereka. Per Selasa (28/10/2025), harga jual kakao kering di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp55.000 per kilogram. Harga tersebut berlaku untuk biji kakao kering berkualitas dasar (Kettler), sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan oleh pihak pembeli dan pengelola hasil kakao.

Untuk mencapai kualitas dasar tersebut, biji kakao harus memenuhi beberapa kriteria teknis. Kadar air maksimal yang diizinkan adalah 9 persen, sementara tingkat kotoran tidak boleh melebihi 5 persen. Selain itu, jumlah biji yang dihitung dalam setiap 100 gram harus mencapai 120 biji. Kandungan jamur dalam kakao juga diawasi dengan ketat, dan batas maksimalnya adalah 3 persen.

Namun, pihak pengelola memberikan toleransi tertentu bagi hasil panen yang tidak sepenuhnya memenuhi standar. Kadar air hingga 10 persen dan tingkat kotoran hingga 8 persen masih dapat diterima, meski dengan konsekuensi tertentu. Jika hasil panen melebihi batas kualitas dasar, harga jual akan mengalami potongan sebesar Rp1.000 per kilogram dari harga dasar yang ditetapkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga mutu kakao dari Aceh Tenggara agar tetap kompetitif di pasar nasional. Dengan kualitas yang terjamin, kakao dari daerah ini diharapkan mampu bersaing dengan produk serupa dari wilayah lain di Indonesia. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk mendorong para petani agar melakukan proses pengeringan dan fermentasi biji kakao dengan lebih baik sebelum menjualnya ke pembeli.

Pengelola hasil kakao di Aceh Tenggara menyatakan bahwa langkah ini bukan hanya untuk melindungi kepentingan pembeli, tetapi juga untuk memberikan edukasi kepada petani. Pasar kakao yang semakin kompetitif menuntut adanya peningkatan kualitas produk. Dengan demikian, diharapkan para petani dapat memahami pentingnya menjaga mutu hasil panen mereka.

Seorang petani kakao di Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara, mengungkapkan bahwa kebijakan ini memberikan tantangan baru bagi para petani. “Kami memahami pentingnya menjaga kualitas, tetapi proses pengeringan dan fermentasi memang membutuhkan waktu dan perhatian ekstra,” ujar Sutrisno, petani kakao yang telah bertahun-tahun mengelola kebun kakao di desanya. Ia juga mengungkapkan harapan agar pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan atau bantuan alat pengeringan kepada para petani.

Sementara itu, pihak pembeli atau penampung kakao berharap agar komunikasi dengan petani terus terjalin dengan baik. “Kami selalu terbuka untuk memberikan panduan teknis kepada petani. Kalau kualitas kakao terjaga, semua pihak akan diuntungkan,” kata seorang pengelola hasil kakao yang enggan disebutkan namanya.

Aceh Tenggara sendiri dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao berkualitas di Indonesia. Hasil kakao dari wilayah ini banyak didistribusikan ke berbagai daerah, bahkan hingga ke pasar internasional. Namun, persaingan yang semakin ketat menuntut adanya standar kualitas yang lebih tinggi.

Melalui kebijakan harga dan standar kualitas yang jelas, pemerintah daerah bersama para pengelola berharap dapat memperkuat posisi Aceh Tenggara sebagai salah satu produsen kakao unggulan di tanah air. Para petani diharapkan bisa terus beradaptasi dengan perkembangan ini demi peningkatan kesejahteraan mereka sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Laporan : Fernando

Berita Terkait

MUSDA X Golkar Aceh Tenggara: Konsolidasi atau Pertarungan Kursi Ketua?
Membangun Budaya Literasi: Perpustakaan SMA Negeri 1 Terangun sebagai Pusat Inovasi Belajar Siswa
Yahdi Hasan Ramud : Meniti Jalan Panjang Dari Bumi Sepakat Segenep, Hingga Panggung DPRA
DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH
Kejutan Pendatang Baru, SDN 3 Blangkejeren Cetak Sejarah di Kejuaraan Pencak Silat Piala PDM 2026
SDA Aceh dan Geopolitik: Antara Kekayaan Alam dan Kepentingan Nasional
Jalan Raya Bukan Arena Kebisingan, Polres Aceh Tenggara Musnahkan 46 Knalpot Brong
Kepala SDN 1 Blangkejeren Raih Penghargaan Terbaik Pengelolaan Manajemen Sekolah se-Kabupaten Gayo Lues

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:30 WIB

“Bhabinkamtibmas Polsek Talang Kelapa Aipda Andri Yana Susanto, Ajak Masyarakat Dukung Program Swasembada Pangan Nasional”.

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Respons Cepat, Polisi Tangani Kebakaran Lahan di Mariana

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:25 WIB

“Bhabinkamtibmas Polsek Banyuasin III Bripka Andy Setiyawan, Ajak Masyarakat Dukung Program Swasembada Pangan Nasional”.

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:16 WIB

“Bhabinkamtibmas Polsek Tungkal Ilir Aiptu Suseno, Ajak Masyarakat Dukung Program Swasembada Pangan Nasional”.

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Ops Sikat I Musi 2026, Satreskrim Polres Banyuasin Amankan DPO Kasus Curanmor 2019

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Tujuh Hotspot Terdeteksi di Wilayah Pulau Rimau, Polisi Lakukan Ground Check

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Cegah Karhutla di Musim Kemarau, Bhabinkamtibmas Betung Edukasi Warga Talang Ipuh

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:03 WIB

“Bhabinkamtibmas Polsek Banyuasin ll Aiptu Joni Setiawan, Dorong Masyarakat Manfaatkan Pekarangan Untuk Dukung Swasembada Pangan”.

Berita Terbaru

REGIONAL

Percepatan Pembangunan Jembatan Perintis

Kamis, 8 Okt 2026 - 13:18 WIB

BANYUASIN

Respons Cepat, Polisi Tangani Kebakaran Lahan di Mariana

Rabu, 7 Okt 2026 - 20:28 WIB