DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH

REDAKTUR

- Redaksi

Selasa, 29 September 2026 - 16:56 WIB

50242 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES, — Kabut tipis masih menggantung di punggung perbukitan ketika Cut Mutia memulai perjalanannya pada pagi itu. Jalan yang akan dilaluinya menuju SMAN 1 Terangun bukan jalan yang mudah. Di sisi kiri dan kanan terbentang tebing curam dan lereng terjal, sementara badan jalan yang sebagian masih berupa tanah dan bebatuan itu kerap berubah menjadi kubangan licin setiap kali hujan turun. Namun, pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya selama 17 tahun terakhir.

Bagi Cut Mutia, jarak dan medan berat bukanlah hal baru. Selama 17 tahun mengabdikan diri sebagai guru di SMAN 1 Terangun, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, ia telah melalui berbagai kondisi jalan yang rawan bencana. Akses utama menuju sekolah tempatnya mengajar dikenal sebagai jalur yang rentan terhadap longsor dan banjir, terutama pada musim penghujan ketika intensitas hujan meningkat dan debit air sungai meluap hingga menutup badan jalan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada hari-hari biasa, ia harus berangkat lebih awal dari rumahnya agar dapat tiba tepat waktu di sekolah. Ketika hujan deras mengguyur kawasan Terangun semalaman, perjalanan itu berubah menjadi perjuangan. Tanah longsor dari tebing kerap menimbun sebagian jalan sehingga tidak bisa dilalui kendaraan. Di titik lain, genangan banjir merendam jalan penghubung antardesa dengan ketinggian yang membahayakan. Dalam kondisi demikian, tidak jarang Cut Mutia harus turun dari kendaraan, berjalan kaki menembus lumpur, menunggu material longsor disingkirkan secara gotong royong, atau mencari jalan memutar yang jaraknya jauh lebih panjang.

Kepala SMAN 1 Terangun, Riduan, S.Pd, menuturkan bahwa dedikasi Cut Mutia telah menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah. Menurut dia, selama 17 tahun pengabdian, Cut Mutia hampir tidak pernah menjadikan kondisi alam yang sulit sebagai alasan untuk tidak hadir. Bahkan ketika akses jalan dilaporkan tertutup longsor atau terendam banjir, ia tetap berupaya datang dengan cara apa pun agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.

“Beliau adalah sosok yang luar biasa. Selama 17 tahun, beliau tetap setia mengabdi di SMAN 1 Terangun, padahal kita semua tahu akses jalan menuju ke sekolah ini sangat rawan, baik longsor maupun banjir. Ketika banyak orang mungkin memilih menyerah pada keadaan, beliau justru menunjukkan ketekunan. Kehadirannya selalu dinanti oleh siswa dan menjadi penyemangat bagi kami para guru,” ujar Riduan.

Riduan menjelaskan, posisi geografis Kecamatan Terangun yang berada di kawasan pegunungan Bukit Barisan membuat ancaman bencana sulit dihindari. Kontur tanah yang labil, tebing yang curam di sepanjang jalur menuju sekolah, serta sistem drainase yang belum memadai membuat jalan mudah tergerus air. Pada musim hujan, titik-titik longsor bermunculan. Material berupa tanah bercampur batu dan batang pohon menutup jalan dalam waktu singkat. Sementara di daerah yang lebih rendah, air sungai yang meluap menggenangi jalan hingga memutus akses sementara waktu.

Dalam situasi seperti itu, menurut Riduan, Cut Mutia kerap tiba di sekolah dengan kondisi pakaian basah dan sepatu penuh lumpur, namun tetap langsung masuk ke kelas dengan wajah tenang. Ia tidak ingin para siswanya merasakan kekhawatiran yang ia lalui di perjalanan. Baginya, kehadiran seorang guru di depan kelas adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa ditawar, terlebih bagi anak-anak di daerah terpencil yang sangat membutuhkan pendampingan pendidikan.

Para siswa SMAN 1 Terangun yang sebagian besar juga berasal dari desa-desa dengan akses serupa memahami betul beratnya medan yang dilalui gurunya. Hal itu justru menumbuhkan ikatan emosional yang kuat antara guru dan murid. Kehadiran Cut Mutia yang konsisten selama belasan tahun membuat para siswa merasa diperhatikan dan dihargai. Mereka melihat langsung bahwa pendidikan diperjuangkan dengan pengorbanan nyata, bukan sekadar kata-kata di dalam ruang kelas.

Selama masa pengabdiannya, Cut Mutia telah menyaksikan berbagai perubahan di SMAN 1 Terangun, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana hingga upaya perbaikan yang dilakukan secara bertahap. Ia juga telah mengantarkan ratusan siswanya menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi maupun kembali mengabdi untuk kampung halamannya. Konsistensi itulah yang membuat namanya dikenal bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di tengah masyarakat Terangun sebagai guru yang penuh kesabaran dan keikhlasan.

Bagi Cut Mutia, perjuangan menembus longsor dan banjir bukanlah hal yang perlu dikeluhkan. Ia berpegang pada keyakinan bahwa setiap anak di Terangun berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sama seperti anak-anak di daerah lain dengan akses yang lebih mudah. Keyakinan itu yang membuatnya bertahan, ketika jalan tertutup dan hujan belum juga reda, ketika tubuh lelah dan perjalanan terasa semakin jauh dari tahun ke tahun.

Dedikasi seperti yang ditunjukkan Cut Mutia juga menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap infrastruktur pendidikan di daerah rawan bencana. Akses jalan yang aman dan memadai tidak hanya menjamin kehadiran guru dan siswa, tetapi juga menjamin keberlangsungan proses belajar secara keseluruhan. Riduan berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih terhadap perbaikan dan pemeliharaan jalan menuju SMAN 1 Terangun, termasuk penanganan tebing rawan longsor serta normalisasi saluran air untuk mengurangi risiko banjir.

Hingga kini, setiap pagi Cut Mutia masih menempuh rute yang sama dengan semangat yang sama. Di balik kesederhanaan sosoknya, tersimpan keteguhan yang telah teruji oleh waktu, cuaca, dan medan yang keras. Perjalanan 17 tahun itu bukan sekadar hitungan masa kerja, melainkan cerminan pengabdian seorang pendidik yang memilih untuk tetap tinggal dan berjuang di tempat di mana kehadirannya paling dibutuhkan. (Wahid)

Berita Terkait

Live Baccarat 2026 auf dem Smartphone: Spielen Sie jederzeit und überall
How UK players benefit from the 100% match bonus at Britsino Casino UK
Gotong Royong TNI dan Warga Lanjutkan Pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Gayo Lues
MUSPIKA TERANGON DAMPINGI PENYALURAN BERAS BULOG, PASTIKAN BERJALAN AMAN DAN TERTIB
Babinsa Koramil 03/ Blangkejeren Cek Kondisi Jembatan di tengah Tingginya Curah Hujan
Wie funktioniert die Einzahlung im Casino mit Paysafecard? Tipps für neue Spieler
So genießen Sie schnelle Auszahlungen in Casinos ohne OASIS
Navigate the world of Best Casinos Not on GamStop UK: Essential tips for new

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:04 WIB

Live Baccarat 2026 auf dem Smartphone: Spielen Sie jederzeit und überall

Selasa, 29 September 2026 - 16:56 WIB

DEDIKASI SEORANG CUT MUTIA GURU SMAN 1 TERANGUN DALAM PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH

Selasa, 29 September 2026 - 15:52 WIB

How UK players benefit from the 100% match bonus at Britsino Casino UK

Selasa, 29 September 2026 - 12:30 WIB

Gotong Royong TNI dan Warga Lanjutkan Pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Gayo Lues

Selasa, 29 September 2026 - 12:25 WIB

Babinsa Koramil 03/ Blangkejeren Cek Kondisi Jembatan di tengah Tingginya Curah Hujan

Senin, 28 September 2026 - 23:45 WIB

Wie funktioniert die Einzahlung im Casino mit Paysafecard? Tipps für neue Spieler

Senin, 28 September 2026 - 23:22 WIB

So genießen Sie schnelle Auszahlungen in Casinos ohne OASIS

Senin, 28 September 2026 - 22:45 WIB

Navigate the world of Best Casinos Not on GamStop UK: Essential tips for new

Berita Terbaru