Program Pembangunan Era Soeharto Diapresiasi sebagai Landasan Awal Kemajuan Indonesia dalam Sektor Teknologi dan Pendidikan

RADAR NEWS

- Redaksi

Kamis, 20 November 2025 - 22:05 WIB

50270 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Penilaian terhadap peran sejarah Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, kembali mencuat ke ruang publik. Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, pada Kamis (20/11/2025) menyatakan bahwa Soeharto patut mendapatkan gelar pahlawan nasional atas berbagai kontribusi besar yang ditorehkannya selama tiga dekade memimpin Indonesia.

Menurut analisis Jerry, Soeharto bukan hanya berperan dalam menstabilkan politik nasional pasca-1965, tetapi juga membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi akut dan membangun fondasi pembangunan nasional yang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Pada awal masa Orde Baru, Indonesia menghadapi inflasi yang amat tinggi, mencapai lebih dari 600 persen. Situasi kritis tersebut perlahan berhasil dikendalikan melalui kebijakan fiskal dan moneter yang ketat serta dukungan tim ekonomi andal seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Ma’rie Muhammad, J.B. Sumarlin, Radius Prawiro, dan Soemitro Djojohadikusumo.

Dalam waktu singkat, inflasi berhasil ditekan hingga menyentuh angka 10 persen, sementara kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional mulai pulih. Stabilitas tersebut menjadi modal penting bagi terjadinya percepatan pertumbuhan ekonomi. Menjelang akhir kekuasaan Soeharto, yakni pada kurun waktu 1996–1997, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,8 persen, melampaui negara-negara maju di Asia Timur saat itu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Prestasi itu mengangkat reputasi Indonesia sebagai “Macan Asia”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemajuan pesat tidak hanya terlihat pada sektor ekonomi, tetapi juga dalam bidang teknologi komunikasi. Indonesia menjadi salah satu negara ketiga di dunia yang memiliki satelit komunikasi sendiri melalui peluncuran Satelit Palapa A1 pada 9 Juli 1976. Peluncuran ini mempercepat integrasi nasional dan menjangkau komunikasi dari Sabang hingga Merauke. Langkah berani lainnya dilakukan pada awal 1980-an dengan mengakuisisi Indosat dari ITT, perusahaan Amerika Serikat. Aksi korporasi senilai US$ 43,6 juta ini menggambarkan keberanian pemerintah saat itu untuk menjaga kedaulatan teknologi strategis bangsa.

Di sektor industri, Soeharto mendukung kelahiran proyek mobil nasional Timor pada 1996. Meski menuai kritik, proyek ini menjadi simbol awal usaha kemandirian industri otomotif dalam negeri. Pada saat bersamaan, sektor dirgantara berkembang pesat di bawah kepemimpinan BJ Habibie. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berhasil memproduksi sejumlah pesawat seperti CN-235 dan N-250 Gatotkaca yang menjadi kebanggaan bangsa. Kekuatan alutsista pun diperkuat dengan pengadaan pesawat tempur modern seperti F-5 Tiger, A-4 Skyhawk, dan BAE Hawk.

Penekanan besar juga diberikan pada pembangunan sumber daya manusia. Hingga tahun 1994, pemerintah Orde Baru membangun hampir 150.000 unit Sekolah Dasar Inpres (Instruksi Presiden). Program ini tak sekadar menurunkan tingkat buta huruf, tetapi juga meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar secara signifikan. Dampak jangka panjang dari program ini menjadi objek studi para ekonom dunia dan turut berkontribusi dalam riset yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2019.

Pengaruh Soeharto dalam mengembangkan generasi teknokrat juga menjadi catatan penting. Tokoh-tokoh seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Ali Wardhana, dan Mohammad Sadli, yang dijuluki sebagai “Mafia Berkeley”, merancang kerangka ekonomi nasional yang sistematis dan berkelanjutan. Dalam pendekatan keamanan, figur seperti Jenderal Benny Moerdani dan Ali Moertopo memainkan peranan penting menjaga negeri tetap stabil di tengah turbulensi politik kawasan. Masa itu juga dikenal sebagai satu fase di mana Indonesia menghasilkan jajaran intelektual dan birokrat unggul bertaraf internasional.

Dalam bidang ketahanan pangan, Soeharto mencetak tonggak sejarah melalui capaian swasembada beras pada 1984. Hasil tersebut dicapai lewat program besar yang meliputi pembangunan irigasi, intensifikasi pertanian, penyediaan pupuk, hingga penyuluhan petani melalui forum seperti Kelompencapir. Atas keberhasilan ini, Indonesia menerima berbagai pengakuan internasional, termasuk World Food Day Award dari FAO. Pada 1985, Soeharto diundang untuk berbicara dalam konferensi FAO di Roma, mengukuhkan citra Indonesia sebagai negara berkembang yang berhasil menata ketahanan pangannya sendiri.

Tak berhenti sampai di situ, sejumlah penghargaan bergengsi lain pun diterima selama kepemimpinannya. Antara lain, Global Statesman Award (1988), UN Population Award (1989), Health for All Gold Medal dari WHO (1991), dan UNDP Award pada 1997. Ragam penghargaan ini dinilai sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam menyejahterakan rakyat Indonesia melalui pembangunan jangka panjang.

Jerry juga menyinggung peran krusial Soeharto dalam memulihkan stabilitas nasional seusai peristiwa 30 September 1965. Menurutnya, keberhasilan menumpas pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi titik balik terpenting yang membuka jalan bagi konsolidasi politik nasional serta pembangunan terencana yang berkesinambungan.

Dengan semua pencapaian tersebut—mulai dari pemulihan ekonomi, modernisasi teknologi, pembangunan pendidikan, ketahanan pangan, hingga stabilitas politik—Soeharto dinilai layak dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ia disebut telah meletakkan fondasi penting bagi kemajuan Indonesia yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.

“Dari ekonomi, teknologi, pendidikan, pangan, hingga stabilitas negara, jejaknya luar biasa. Karena itu saya berpendapat Soeharto layak diberi gelar pahlawan nasional,” ujar Jerry. (RED)

Berita Terkait

Proyek Pembangunan Dermaga Kapal Cepat BPKS Diduga Sarat Permainan
Prodi Pendidikan Kimia FKIP USM Gelar PKM di Gampong Jaboi Kota Sabang

Berita Terbaru

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:19 WIB

Kompak dan Bersinergi, Satgas TMMD dan Warga Gotong-royong Rehab Masjid dan Tempat Wudhu

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:31 WIB

Babinsa Komsos Dengan Tokoh Masyarakat Di Wilayah Desa Binaan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Tim Wasev Kunjungi Lokasi TMMD ke-130 TA 2026 Kodim 0113/Gayo Lues

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:37 WIB

KODIM 0113/GAYO LUES KORAMIL 09/PUTRI BETUNG ​TNI dan Warga Gotong Royong Lanjutkan Pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Dusun Tebangun

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:33 WIB

Babinsa Pos Ramil Dabun Gelang dampingi Penyaluran Makan Bergisi Gratis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:22 WIB

Musim Hujan, Babinsa Ingatkan Warga Waspada Bencana Alam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:56 WIB

Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah Gayo Lues – Pengerjaan sumur bor pada Sasaran Program Unggulan TNI AD dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-130 Tahun 2026 Kodim 0113/Gayo Lues mulai dilaksanakan. Sebanyak dua titik sumur bor akan dibangun di dua Desa, yaitu Kampung Pepelah dan satu lagi di kampung Gajah Kecamatan Pining. Tentunya diharapkan bantuan ini dapat membantu mengurangi krisis air yang selama ini dialami warga, sehingga masyarakat dapat lebih mudah memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Anggota Satgas bersama warga bahu membahu membuat sumur bor demi terciptanya air bersih yang layak pakai. Kehadiran Satgas TMMD ke-130 Kodim Gayo Lues di tengah masyarakat tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat melalui kerja nyata yang memberikan manfaat langsung bagi warga. Dansatgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Letkol Arm Frans Desiafan Eka Saputra, S.H melalui Wadansatgas Kapten Inf MHD Syafi’i Sirait mengatakan, bahwa program penyediaan air bersih ini juga menjadi bagian dari komitmen TNI melalui TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues untuk membantu percepatan pembangunan di wilayah pedesaan, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terkait pemenuhan kebutuhan akan air bersih selama musim kemarau. Melalui pembangunan fasilitas air bersih tersebut, diharapkan masyarakat di sekitar dua kampung tersebut dapat memperoleh akses air yang lebih mudah dan memadai untuk menunjang aktivitas rumah tangga, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kualitas kesehatan warga. Kita berharap bahwa dengan pembuatan sumur bor ini, warga Kampung Pepelah dan Kampung Gajah dapat memiliki akses ke air bersih yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” kata Wadansatgas.

Berita Terbaru