PUISI RADARNEWS-Di tepian Singkil, angin bertutur pelan, Menyampaikan kisah dari ujung peradaban. Tentang tanah yang bergeser perlahan, Empat pulau kecil, bagai anak terlepas dari pelukan.
Rakyat Aceh Telah lama belajar berdamai dalam tenang. Menyulam harapan dengan benang kesabaran, Menjaga warisan, titipan dari leluhur dalam keheningan.
Perjanjian Helsinki kami muliakan, Sebagai tanda cinta pada jalan kedamaian. Namun, bila janji mulai pudar makna, Apa arti ikrar di hadapan dunia?
Wahai yang memegang amanah negara, Dengarlah lirih dari tanah yang jauh di mata. Ini bukan suara marah membara, Tapi bisikan hati yang tulus menjaga.
Kami tak ingin kembali terjatuh dalam luka, Tak ingin sejarah kelam terulang tanpa makna. Namun jangan renggut akar kami dari bumi, Jangan gores martabat kami, warisan yang suci.
Kepada para wakil di ruang terhormat, Datanglah dengan hati, bukan semata jabatan yang diangkat. Jika tak mampu menjaga tanah pusaka, Pulanglah dengan jujur, tak perlu bicara tanpa makna.
Kami rakyat yang cinta pada damai, Namun cinta itu butuh ruang yang tidak tercabik. Tanah ini bukan sekadar peta dan Ia adalah jiwa, harapan yang kami wariskan dengan tulus.Bisikan Tanah Singkil





































